Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Doa Seorang Pendosa

Pintaku satu. Biar ia tau. Entah apa kabar setelah itu. Pantaskah Kau kabul? Orang ini banyak mau. Minta ini minta itu. Dasar tak tahu malu. Inginnya begitu. Beberapa hari menunggu disepertiga malam kelabu. Seringnya memang berlalu. Terlalu lelah hingga mendengkur. Doa pendosa ini satu. Tuhan, Biar ia tau. Entah apa kabar setelah itu.

Malu

Masih teringat kejadian saat tubuhku mencium lantai kayu. Dilempar telur dan terigu. Tidak. Ini bukan perayaan ulang tahun. Ini hanya satu dari sekian hari biasa untukku. Tak ada lagi hari sial jika selalu seperti ini rutinitasku. Tamparan itu membekas bukan hanya di pipiku, tapi juga di hatiku. Aku marah, bukan pada mereka, melainkan pada ketidak berdayaan ku. “Bodoh.” “Dasar tolol. Lemah. Kenapa kamu sungguh tidak berguna?” Kalimat-kalimat umpatan itu selalu ku tujukan pada diriku sendiri. Aku benci diri ku. Aku benci hidupku. Setiap malam tak ada aktivitas lagi selain meratapi nasibku. Tertidur bersama emosi yang hanya ku simpan sendiri. Mimpi indah pun tak bisa ku nikmati. Aku dijajah bahkan hingga di alam bawah sadarku. Ku sambut pagi dengan menjadi tempat sampah lagi. Tomat busuk mengecupku penuh cinta. Menggeser posisi telur dan terigu yang sudah menemani dua tahun terakhir. Aku masih diam. Mematung menyaksikan tingkah liar mereka. Kewarasan mereka sudah dia...

Tanpa Kesalahan

Suatu ketika di hari yang basah. Dia yang ku kagumi karena kekuatan tekadnya, ku temukan dalam kondisi mengenaskan. Ia menangis. Tanpa suara memang, tapi aku tau dia sedang menangis. Bahunya yang selalu terlihat kokoh pun bergetar. Aku bertanya dalam hati, apa kiranya yang membuat ia serapuh itu. Ingin rasanya ku abaikan ia. Tapi kaki ini menuntun ku mendekatinya. Ia lalu menghapus air matanya dan bertanya pada ku, “sedang apa kamu disini?” “Ada apa dengan mu?” tanya ku padanya. “Sedang apa kamu disini?” katanya lagi mengulang pertanyaannya. “Ada apa dengan mu?” sahut ku. Ia terdiam, lalu menepuk sisi kosong di bangku sebelahnya. Satu jam yang kami habiskan tanpa kata. Ia hanya diam, sesekali menghela nafas. “Menangislah.” “Untuk apa?” “Karena kamu butuh itu.” Ia tak mau menurut. Anak nakal itu tidak mau menangis. “Apa yang salah dengan kesalahan?” tanyanya pada ku. “Tak ada.” Ia menatap ku. Ada tanya pada manik mata hitamnya. “Tak ada yang...