Suatu ketika di hari yang basah. Dia yang ku kagumi karena kekuatan tekadnya, ku temukan dalam kondisi mengenaskan. Ia menangis. Tanpa suara memang, tapi aku tau dia sedang menangis. Bahunya yang selalu terlihat kokoh pun bergetar. Aku bertanya dalam hati, apa kiranya yang membuat ia serapuh itu. Ingin rasanya ku abaikan ia. Tapi kaki ini menuntun ku mendekatinya. Ia lalu menghapus air matanya dan bertanya pada ku, “sedang apa kamu disini?” “Ada apa dengan mu?” tanya ku padanya. “Sedang apa kamu disini?” katanya lagi mengulang pertanyaannya. “Ada apa dengan mu?” sahut ku. Ia terdiam, lalu menepuk sisi kosong di bangku sebelahnya. Satu jam yang kami habiskan tanpa kata. Ia hanya diam, sesekali menghela nafas. “Menangislah.” “Untuk apa?” “Karena kamu butuh itu.” Ia tak mau menurut. Anak nakal itu tidak mau menangis. “Apa yang salah dengan kesalahan?” tanyanya pada ku. “Tak ada.” Ia menatap ku. Ada tanya pada manik mata hitamnya. “Tak ada yang...