Betapa rindu membuat benang-benang kusut semakin tidak karuan ketika kulihat kamu di dalam temaram. Tanganmu masih diharap bisa menggenggam tubuh yang lebam-lebam dihajar waktu, kata-kata seram, dan hiruk pikuk jalanan siang malam. Rebah padamu rasanya mampu membenam gundah gulana di saat kelam. Sungguh dirimu bisa menjadi peredam kala pasang surut emosi tidak bisa lagi dicengkeram. Diam. Aku membentak takdir yang terlalu kejam. Emtah dendam apa yang ia pendam. Buatku terpancing menyelam hingga hampir tenggelam.
Poem and story enthusiast. An amateur author. Trying to productive.