Aku tidak tahu siapa yang kuharapkan,
atau semesta seperti apa yang kuinginkan,
atau sosok yang bagaimana.
Aku hanya ingin pengisi untuk kehampaan yang kurasakan.
Pengisi untuk ruang kosong yang sejujurnya sudah hampir kulupakan.
Tapi seiring berjalannya waktu,
dengan banyak buku yang ku baca,
film dan drama yang ku tonton.
Aku hanya tahu, bahwa aku tidak bisa sendirian dan mengabaikannya begitu saja.
Kekosongan ini semakin menjadi-jadi ketika aku membuat karakter fiksi.
Ia yang semu tapi terasa nyata.
Ia yang hanya hidup dalam benak dan khayal, dalam batin dan pikirku.
Karakter fiksi yang ternyata tidak mampu menenangkan kegelisahanku, kegugupanku, ketakutanku, kesedihanku.
Seringnya, semakin aku mencoba menghidupkan si karakter fiksi, semakin aku merasa sepi, semakin aku merasa sakit sendiri.
Kesakitan yang timbul karena ku tahu mereka tidak nyata, mereka tidak ada, atau kami hidup di dunia yang berlainan.
Kehidupan yang tidak akan pernah menyatukan kami, meski tanpa sengaja, tanpa rencana.
Kehidupan yang hanya bisa kuselami kadang-kadang.
Mengisi waktu luang yang terasa menyesakkan.
Aku tidak tahu siapa yang kuharapkan,
atau semesta seperti apa yang kuinginkan,
atau sosok yang bagaimana.
Dan aku tidak tahu sampai kapan aku terus menurus tidak tahu apapun.