Langsung ke konten utama

V

Aku tidak tahu siapa yang kuharapkan,
atau semesta seperti apa yang kuinginkan,
atau sosok yang bagaimana.
Aku hanya ingin pengisi untuk kehampaan yang kurasakan.
Pengisi untuk ruang kosong yang sejujurnya sudah hampir kulupakan.

Tapi seiring berjalannya waktu,
dengan banyak buku yang ku baca,
film dan drama yang ku tonton.
Aku hanya tahu, bahwa aku tidak bisa sendirian dan mengabaikannya begitu saja.

Kekosongan ini semakin menjadi-jadi ketika aku membuat karakter fiksi.
Ia yang semu tapi terasa nyata.
Ia yang hanya hidup dalam benak dan khayal, dalam batin dan pikirku.
Karakter fiksi yang ternyata tidak mampu menenangkan kegelisahanku, kegugupanku, ketakutanku, kesedihanku.
Seringnya, semakin aku mencoba menghidupkan si karakter fiksi, semakin aku merasa sepi, semakin aku merasa sakit sendiri.

Kesakitan yang timbul karena ku tahu mereka tidak nyata, mereka tidak ada, atau kami hidup di dunia yang berlainan.
Kehidupan yang tidak akan pernah menyatukan kami, meski tanpa sengaja, tanpa rencana.
Kehidupan yang hanya bisa kuselami kadang-kadang.
Mengisi waktu luang yang terasa menyesakkan.

Aku tidak tahu siapa yang kuharapkan,
atau semesta seperti apa yang kuinginkan,
atau sosok yang bagaimana.
Dan aku tidak tahu sampai kapan aku terus menurus tidak tahu apapun.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...