Hai, Akala. Apa kabar?
Aku sudah putus asa sampai hampir lupa. Kupikir, aku akan mati rasa. Tapi aku senang karena kita berjumpa. Di pertemuan yang tidak aku nantikan ada. Ternyata kamu masih sama. Lucunya, kamu tertawa.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Tidak", Katamu.
Dari sedikit waktu yang diperkenankan, aku bahagia. Karenanya menghadirkan perhatian kecil darimu yang tak pernah kukira. Karenanya menghadirkan sebuah doa darimu yang kuaminkan dengan segera. Amin paling serius dan tulus. Karenanya menghadirkan candaan khasmu, tingkahmu yang lucu, dan senyummu yang candu. Akala, yang ternyata masih kurindu.