Langsung ke konten utama

Jangan Lagi

Beberapa bulan lalu, aku sempat pergi jauh dengan satu alasan rahasia sebenarnya. Tapi, di sini akan aku ceritakan. Aku pergi untuk melupa. Ketika itu, sebenarnya aku baru saja tiba di Jakarta. Ketika itu, beberapa minggu berkelana membuatku rindu dengan seseorang. Sangat amat. Puncaknya ketika dingin menerpa di Dieng. Di pikiranku langsung teringat beberapa perjalanan bersama kami. Tentang hawa dingin dan kehadirannya yang membuat sekitarku menjadi hangat. Katakanlah aku terlalu mendramatisir. Tapi bukankah memang begitu saat kita jatuh cinta? Jangan salahkan aku. Sifat melankolis plegmatisku membuatku menjadi seperti ini.

Berhari-hari, aku menahan hasrat untuk menanyakan kabarnya. Menahan rindu yang waktu itu membuatku menangis diam-diam. Aku rindu dia dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap hari, kutulis pesan tersirat untuknya melalui tulisan-tulisanku di sosial media. Meski ku tahu dia melihat, tapi dia tidak pernah merespon. Sakit sekali. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi ketika kutahu dia memberikan kode untuk seseorang. Seseorang yang sangat jelas bukan aku. Seseorang yang sangat mungkin dia sukai. Seperti sebuah tanda peringatan, aku mundur. Aku tidak pernah bisa menyukai seseorang yang sudah dimiliki atau kemungkinan dia punya seseorang yang ingin dimiliki. Sifat yang jelek kata temanku karena beberapa temanku bilang selama janur kuning belum melengkung, kesempatan selalu ada. Tapi tidak untukku. Saat aku tahu bahwa orang yang kusuka memiliki pilihannya, aku akan berhenti. Entah mengapa aku selalu memikirkan perasaan wanita itu jika tahu bahwa lelakinya disukai orang lain.

Setelah kepulanganku dan penuntasan janji yang akhirnya bisa kupenuhi, aku mencoba menghentikan semuanya. Membunuh perasaan yang masih tersisa. Aku juga tahu diri, aku tidak akan dipilih dan aku tidak bisa menyakiti diriku lebih lagi. Aku kemudian pergi lagi untuk melupa. Benar saja, setelah kembali ke Jakarta dan bertemu dengannya lagi aku sudah biasa. Aneh rasanya bahwa dulu dia pernah menjadi sosok yang sangat aku sukai.

Setelahnya, aku bertekad untuk tidak lagi berlebihan. Aku tidak ingin menjadi yang terlalu besar merasa. Tidak ingin memberikan terlalu banyak. Aku tidak ingin merasa sepihak lagi. Jauh di dalam hati, aku ingin merasa diperjuangkan, bukan memperjuangkan. Aku ingin merasa digenggam, bukan menggenggam. Aku ingin merasa dikuatkan, bukan menguatkan. Katakanlah aku egois, tapi apa tidak boleh jika sesekali merasa begitu?

Sebenarnya, tulisan ini dibuat karena beberapa waktu terakhir dia mulai datang lagi padaku. Benar dugaanku dulu, dia punya seseorangnya. Seseorang yang dipayunginya ketika aku memayunginya. Salahku karena terlalu terbawa perasaan. Ketika itu, mungkin waktunya hanya tepat saja. Tepat saat dia renggang dengan seseorangnya. Aku mengisi kekosongan itu dan dia menerimanya. Tapi saat mereka kembali rekat, aku sudah bukan siapa-siapa. Hanya aku dan diriku yang terlalu emosional. Sekarang, ketika hal itu terulang lagi, aku sangat berharap dia menyudahi ini. Tolong jangan singgah kalau tak sungguh. Tolong jangan jadikan aku pelampiasan lagi. Tolong jangan beri aku tanda-tanda lagi. Tolong, aku lelah terus seperti ini.