Langsung ke konten utama

Pria di Mimpi

Buat Kamu,
pria di mimpi yang tidak ku tahu siapa padahal sejelas itu.

Hai! Aku ingin menyapa meski tahu mungkin kamu tak nyata. Aku ingin menyapa meski tahu mungkin kamu adalah karakter fiksi yang si otak cipta. Karakter fiksi yang hadir di tengah-tengah impianku. Karakter fiksi yang mungkin divisualisasikan dari kegundahan dan kelelahanku menjalani semua aktivitas yang sedang aku lakoni saat ini. Aku tidak tahu siapa namamu karena kamu bukan siapa pun itu. Kamu tidak cocok dengan Akala. Kamu pun tidak bisa kusandingkan dengan perbendaharaan kata-kata indah maupun jelmaan isi semesta. Satu yang kuingat adalah wajahmu yang menatapku dengan teduh. Tatapan yang sungguh sangat aku inginkan dan harapkan dari seseorang yang spesial untukku nanti, siapa pun itu. Aku sangat berusaha agar tidak lupa tatapan dan senyummu di mimpiku malam itu. Makanya, aku menulis ini untuk mengenangmu. Untuk mengingatmu meski hanya bagian kecil dari mimpi itu yang bisa kuhafal sampai tulisan ini dibuat.

Mau kuceritakan versi mimpiku? Jadi, begini. Aku tidak tahu dari mana memulainya. Kejadian yang aku ingat adalah aku dan beberapa orang di dalam sebuah gedung. Kami menghindari sesuatu, entah apa itu. Ketika mati lampu, kami berusaha kabur tapi tidak menemukan celah satu pun. Akhirnya, seseorang yang bersamaku bilang untuk bersembunyi. Seingatku, sepertinya aku punya perasaan padanya. Sebut saja dia S. S bilang, "sembunyi". Aku berusaha mengikutinya untuk sembunyi tapi dia bilang untuk pergi ke tempat lain. Aku berusaha mencari persembunyian tapi tak lama kemudian tertangkap. Aku tidak tahu di mana S tapi aku memikirkannya. Aku dibawa ke suatu ruangan dan didiamkan saja di sana. Entah berapa lama, ada suara berisik dari luar dan pintu terbuka. Kulihat banyak orang berlarian. Instingku bilang untuk mengikut mereka berlari. Ternyata, mereka menuju sebuah pintu yang terbuka dan terlihat cahaya di sana. Hatiku bahagia ketika melihat kebebasan di depanku. Aku berlari menuju pintu itu dengan segera bersamaan dengan banyak orang lainnya. Ketika kami semua sudah di luar, aku tetap mencari S dan menemukan dia sudah berlari cukup jauh. Aku mengejarnya dan berhasil memegang tangannya. Dia berhenti dan melihat kepadaku tapi dia terasa sangat asing. Tatapannya seperti orang yang tidak mengharapkan aku saat itu dan rasanya terlalu canggung. Kami berdiri diam saling menatap dengan aneh sebelum seseorang menepuk pundakku. Awalnya orang ini juga terasa asing. Tapi siapa sangka itu adalah pertemuanku dengan pria misterius di mimpiku.

Pria di mimpi ini, sebut saja X memegang pundakku dan seolah meyakinkanku untuk berlari bersamanya. Aku tidak tahu apa yang dia katakan. Aku juga tidak yakin dengan apa yang dia lakukan, tapi rasanya seolah dia menggenggam tanganku dan mengajakku untuk ikut bersamanya. Aku menatap matanya dan mengikutinya tanpa ragu. Meninggalkan sosok S yang tiba-tiba sudah hilang begitu saja. Aku juga tidak yakin dengan apa yang kami lakukan setelahnya. Tahu-tahu adegan sudah berganti sangat jauh.

Hari itu, aku dan pria di mimpi ini berada di sebuah pantai bersama teman-teman dan keluarga kami. Aku ingin sekali memotret langit sore itu karena sangat indah. Angin pantai sore itu berhembus tidak kencang tapi juga tidak pelan, sedang saja. Matahari terbenam menghasilkan warna merah, jingga kekuningan dengan latar biru langit dan laut yang indah, sangat indah. Aku menyukainya. Aku ingin mengabadikannya. Tapi entah mengapa ponselku rusak, tidak bisa menyala. Itu membuatku sedih. Kemudian ayahku datang memberikan ponselnya padaku untuk aku memotret senja. Di tengah percakapan kami, si pria di mimpi ini datang. Turut serta dalam percakapan kami dan entah mengapa rasanya begitu membahagiakan. Aku sangat gembira. Lalu aku meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju pemecah ombak di mana di sana juga ada teman-temanku yang sedang bercanda. Mereka meledekku tapi aku tidak tahu apa ledekan itu.

Pria di mimpi itu kemudian datang menghampiri ku dan teman-temanku, ikut meledekku. Aku tertawa gembira. Baru kali ini aku diledek dan merasa sangat bahagia. Aku kemudian berjalan ke samping teman-temanku untuk menghindari malu dan geli karena diledek olehnya sambil tetap tersenyum. Aku menuntaskan misiku, memotret langit senja yang indah hari itu.

Setelah mengambil beberapa foto, tiba-tiba pria di mimpi ini sudah berada di sebelah kananku. Menatapku dengan matanya yang indah dan sangat teduh dengan senyum tulusnya. Saat aku melihat itu aku benar-benar bahagia dan kutahu dia juga bahagia. Kali itu, meski dalam mimpi, aku benar-benar merasa dicintai. Dari tatapannya, ku tahu dia mencintaiku sangat besar. Lebih dari perasaanku untuknya. Tatapannya membuatku merasa tenang dan aman. Tatapannya membuatku merasa tidak perlu khawatir dengan masalah karena aku punya dia. Tatapannya seolah mengatakan padaku bahwa dia akan selalu ada di sini, di sampingku, di hatiku, dan bahwa dia akan memelukku jika aku merasa tidak baik-baik saja. Saat itu, aku sadar bahwa aku tertidur dan itu hanya mimpi. Tapi meski pun itu mimpi, aku bersyukur dipertemukan dengan pria ini. Setelah terbangun, aku berdoa semoga segera dipertemukan dengannya. Hari setelah aku terbangun dari mimpi indah dengan pria itu, aku berharap mimpi indah ini menjadi nyata. Jika bukan pria itu, setidaknya ku mohon pria yang menatapku seperti dia. Menatapku dengan binar kebahagiaan penuh cinta yang tulus. Aku ingin laki-laki itu.

Mimpiku masih berlanjut setelah kejadian tatapannya di pantai. Tidak tahu bagaimana ceritanya, tiba-tiba aku berada di sebuah ruang dengan teman-teman wanitaku. Kami seperti kabur dari sesuatu. Setelah makan, ada seseorang yang datang dan mengetuk pintu bangunan kami. Seseorang ini melakukan sesuatu yang membuat kami memuntahkan makanan kami dan membuat kami mengingat sesuatu. Teman-temanku merasa aneh, tapi aku merasa kepalaku sakit. Beberapa saat kemudian, pria di mimpi itu datang bersama orang-orang lainnya yang kurasa aku mengenal mereka. Seseorang yang membuat kami memuntahkan makanan kami tersebut kemudian membicarakan sesuatu dengan mereka. Teman-temanku menanyakan berbagai hal yang membuat kepalaku semakin sakit. Aku kemudian tidak sadarkan diri.

Setelah sadar, aku berada di sebuah rumah kayu dengan seorang laki-laki yang lebih tua tapi dia bukan ayahku. Dia terasa seperti keluargaku, mungkin pamanku. Tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di situ. Satu hal yang aku ingat bahwa dia bilang kalau aku dan seorang pria ini sudah berbeda. Aku pun tidak tahu pria mana yang dimaksud dan apa yang berbeda. Kemudian seorang wanita seumuran denganku yang kurasa sangat akrab denganku datang. Aku menemuinya di luar dan dia bilang ingin menyampaikan pesan pada pamanku. Aku merasakan hal yang aneh. Seolah ada aura bertentangan di antara mereka. Rasanya seperti awalnya mereka dua orang yang akrab seperti kerabat namun sudah tidak bisa seperti itu lagi karena satu hal tapi tetap menjaga batasan untuk tetap saling bersikap sopan. Ketika ia mau pergi, aku melihat ke kiri. Ku dapati seorang pria yang kupikir itu adalah S. Entah kenapa S, tapi aku bilang pada wanita itu sambil agak berbisik karena malu, masih ada pamanku. Aku bilang padanya, "Tolong sampaikan pesanku pada pria berbaju merah itu. Aku kangen dia. Apa dia tidak rindu padaku?". Wanita itu membalas dengan senyum dan berjanji akan menyampaikannya. Aku kembali menengok ke kiri dan dia masih di sana sedang melakukan sesuatu. Beberapa orang yang bersamanya menatap ke arahku. Setelah lama aku menatap ke pria itu, aku baru sadar bahwa dia adalah X. Dia adalah pria di mimpiku. Dia bukan S. Dia adalah pemilik tatapan teduh itu. Saat itu juga aku merasa dia ingin sekali menengok ke arahku. Dia ingin sekali menatap dan memelukku. Aku yakin dia juga rindu. Tapi ia tidak bisa berbalik entah kenapa. Dia seperti tidak sanggup untuk menatapku. Seolah dengan dia melihatku maka aku akan terkena bahaya. Seketika itu juga aku merasa sedih. Aku merasa ingin berlari ke arahnya, memeluknya, dan mengatakam bahwa semua baik-baik saja. Tapi tidak bisa. Seolah ada magnet yang menarik ku ke satu sisi dan dia ke sisi lainnya. Seolah ada pembatas tak kasat mata yang memisahkan kami. Aku merindukannya sampai aku nekat melakukan hal-hal yang berbahaya. Bagiku, tidak apa-apa aku terluka jika dengan begitu bisa kembali bersamanya. 

Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah ini karena aku terbangun. Ku lihat jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 10 siang. Aku terpaksa bangun karena harus menunaikan tanggungan dan kewajiban di dunia nyata. Ku kesampingkan ego untuk meneruskan cerita dan kuingat-ingat kisah ku sepanjang hari hingga bisa kutuliskan sekarang. Sampai saat tulisan ini dibuat, aku masih memikirkan si pria di mimpi ku dan aku masih berdebar ketika memikirkannya. Tuhan, aku sangat ingin melihatnya lagi. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Jika aku boleh meminta, tolong jadikannya nyata. Tolong pertemukan aku dengan dia segera. Si pria di mimpi.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara