Langsung ke konten utama

Buat Akala (bagian kesekian)

Aku merindukan seseorang favoritku yang aku tidak tahu mengapa namamu muncul dari dalam keningku. Seperti Zeus yang melahirkan Athena melalui pikirannya. Seperti itulah tulisanku saat ini.

Tidak kusangka, aku kembali menulis tentangmu. Melanjutkan "Buat Akala" yang harusnya sudah lama ku tutup. Kenapa aku jadi memikirkanmu lagi? Apa karena yang waktu itu? Ah, sepertinya obrolan bersamamu menjadi candu untukku.

Ini pagi kesekian dengan dingin yang sebentar lagi menguap. Perasaanku bilang kemungkinan hari ini akan panas. Aku senang dengan cerahnya cuaca akhir-akhir ini. Langit biru terlihat bersih dengan awan-awan putih yang berbentuk seperti permen kapas. Aku ingin berterima kasih kepada pohon bambu yang mempercantik pemandanganku meski aku hanya di rumah. Pohon bambu, langit biru, awan putih, dan angin di siang hari yang terik akhir-akhir ini benar-benar mengingatkanku padamu. Aku memainkan gelembung sabun beberapa hari terakhir dan sangat senang ketika gelembung-gelembung itu tertiup angin terbang ke atas melintasi pohon bambu meski tidak mencapai langit. Bahagia sesederhana itu.

Buat Akala. Kau tahu kenapa semua itu mengingatkanku padamu? Karena semua itu adalah manifestasi semesta. Alam yang saat ini bisa bernafas lega sebentar dan rehat sejenak dari beban berat yang menekan dirinya. Bumi yang kusayangi semoga segera membaik.

Buat Akala. Aku tahu keadaanmu baik dan itu cukup. Aku masih menantikan semesta merestui pertemuan kita suatu hari nanti. Jika nanti saat itu tiba dan perasaan ini masih sama, bolehkah aku memelukmu sekali?

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara