Aku merindukan seseorang favoritku yang aku tidak tahu mengapa namamu muncul dari dalam keningku. Seperti Zeus yang melahirkan Athena melalui pikirannya. Seperti itulah tulisanku saat ini.
Tidak kusangka, aku kembali menulis tentangmu. Melanjutkan "Buat Akala" yang harusnya sudah lama ku tutup. Kenapa aku jadi memikirkanmu lagi? Apa karena yang waktu itu? Ah, sepertinya obrolan bersamamu menjadi candu untukku.
Ini pagi kesekian dengan dingin yang sebentar lagi menguap. Perasaanku bilang kemungkinan hari ini akan panas. Aku senang dengan cerahnya cuaca akhir-akhir ini. Langit biru terlihat bersih dengan awan-awan putih yang berbentuk seperti permen kapas. Aku ingin berterima kasih kepada pohon bambu yang mempercantik pemandanganku meski aku hanya di rumah. Pohon bambu, langit biru, awan putih, dan angin di siang hari yang terik akhir-akhir ini benar-benar mengingatkanku padamu. Aku memainkan gelembung sabun beberapa hari terakhir dan sangat senang ketika gelembung-gelembung itu tertiup angin terbang ke atas melintasi pohon bambu meski tidak mencapai langit. Bahagia sesederhana itu.
Buat Akala. Kau tahu kenapa semua itu mengingatkanku padamu? Karena semua itu adalah manifestasi semesta. Alam yang saat ini bisa bernafas lega sebentar dan rehat sejenak dari beban berat yang menekan dirinya. Bumi yang kusayangi semoga segera membaik.
Buat Akala. Aku tahu keadaanmu baik dan itu cukup. Aku masih menantikan semesta merestui pertemuan kita suatu hari nanti. Jika nanti saat itu tiba dan perasaan ini masih sama, bolehkah aku memelukmu sekali?