Langsung ke konten utama

Inginnya Aku

Inginnya aku, kita cukup dekat untuk menanyakan lebih dari sekadar apa kabar dan bagaimana harimu. Aku ingin mendengar banyak cerita darimu dan akan aku ceritakan banyak hal untukmu. Meskipun nyatanya, kita bahkan tidak cukup dekat untuk sekadar bertanya sedang apa sekarang dan apa kamu punya waktu.

Benar kata mereka. Hanya karena kita pernah berbagi cerita, bukan berarti kita menjadi dekat. Itu hanya beberapa cerita yang kadang kamu bagikan secara acak kepada orang-orang yang hanya sesekali kamu temui.

Kau tahu, saat ini aku punya banyak cerita dan tidak tahu harus kubagikan dengan siapa. Tentang kegelisahan dan kesedihan karena akhirnya kebahagiaan dan kenyamananku tiba. Ya, kebahagiaan dan kesedihanku kembali hadir ketika semua akan berakhir. Kupikir waktu akan berlalu sangat lama ketika semua kumulai dengan banyak tangisan, kekecewaan dan kemarahan pada diri sendiri sampai aku berdamai dengan semua dan mencoba mengikuti ritme. Mengalir tenang sambil memperhatikan keadaan memang sebaik-baiknya percobaan untukku. Sepertinya, aku memang bukan tipe penanya dan ditanya karena semakin aku bertanya atau ditanya, aku akan semakin bingung dan panik sendiri. Butuh waktu untukku sampai pada tahap aku mencoba mengikuti ritme ketika hampir menyerah. Kurasa hal tersebut berhasil karena sekarang, ketika tiba waktunya akan berakhir, aku malah merasa nyaman, sedih, dan takut jika semua akan berakhir. Aku senang di sini walaupun aku masih tidak tahu apa aku bisa diterima dan melebur menjadi bagian bersama yang lain. Aku senang di sini walaupun aku masih ragu dengan kemampuan diriku sendiri. Aku senang di sini walaupun kadang masih kelimpungan mengejar yang lain. Intinya aku senang dan mulai merasa nyaman di sini. Itu yang membuatku sedih dan takut karena akan berakhir.

Akala, ada banyak lagi hal yang ingin kuceritakan. Ada banyak kisah yang ingin kubagikan. Ada banyak tanya yang ingin kuutarakan. Ada banyak hal yang ingin kuketahui dan kudengar dari sudut pandangmu.

Akala, kau tahu, bahkan tanpa pandemi ini sudah cukup sulit untuk kita bertemu. Bahkan pandemi ini sendiri pun sudah cukup sulit dilalui sendiri suatu waktu. Aku hanya ingin bertemu, minimal melihat dan mendengar suaramu. Tapi kita bahkan tidak cukup dekat untuk sekadar sering bertukar pesan, apalagi untuk menelfon atau video call. Ketidakmungkinan itu hanya bisa kutanggapi dengan senyum miris. Betapa aku menanti update postingan di sosial mediamu yang jarang sekali kamu lakukan. Sibukkah kamu? Aku ingin tahu, tapi siapa aku? Pertanyaan yang membuatku menangis ketika menulis ini.

Akala, aku ingin mampir ke tempatmu. Ingin yang belum sempat kukabul ketika aku berapa di sana waktu itu. Ingin yang mungkin tidak akan pernah terkabul.

Akala, kita itu kontras sekali. Kamu membuat ruang untuk bertemu di masa depan sedang aku merusak ruang untuk menemukan masa lalu. Bisakah kita melengkapi satu sama lain? Lagi-lagi, sebuah pertanyaan yang hanya menggantung di udara dan tidak akan pernah kutahu jawabannya.

Akala, sekian dulu. Ini sudah pukul sepuluh. Sampai bertemu, entah kapan itu. 

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...