Inginnya aku, kita cukup dekat untuk menanyakan lebih dari sekadar apa kabar dan bagaimana harimu. Aku ingin mendengar banyak cerita darimu dan akan aku ceritakan banyak hal untukmu. Meskipun nyatanya, kita bahkan tidak cukup dekat untuk sekadar bertanya sedang apa sekarang dan apa kamu punya waktu.
Benar kata mereka. Hanya karena kita pernah berbagi cerita, bukan berarti kita menjadi dekat. Itu hanya beberapa cerita yang kadang kamu bagikan secara acak kepada orang-orang yang hanya sesekali kamu temui.
Kau tahu, saat ini aku punya banyak cerita dan tidak tahu harus kubagikan dengan siapa. Tentang kegelisahan dan kesedihan karena akhirnya kebahagiaan dan kenyamananku tiba. Ya, kebahagiaan dan kesedihanku kembali hadir ketika semua akan berakhir. Kupikir waktu akan berlalu sangat lama ketika semua kumulai dengan banyak tangisan, kekecewaan dan kemarahan pada diri sendiri sampai aku berdamai dengan semua dan mencoba mengikuti ritme. Mengalir tenang sambil memperhatikan keadaan memang sebaik-baiknya percobaan untukku. Sepertinya, aku memang bukan tipe penanya dan ditanya karena semakin aku bertanya atau ditanya, aku akan semakin bingung dan panik sendiri. Butuh waktu untukku sampai pada tahap aku mencoba mengikuti ritme ketika hampir menyerah. Kurasa hal tersebut berhasil karena sekarang, ketika tiba waktunya akan berakhir, aku malah merasa nyaman, sedih, dan takut jika semua akan berakhir. Aku senang di sini walaupun aku masih tidak tahu apa aku bisa diterima dan melebur menjadi bagian bersama yang lain. Aku senang di sini walaupun aku masih ragu dengan kemampuan diriku sendiri. Aku senang di sini walaupun kadang masih kelimpungan mengejar yang lain. Intinya aku senang dan mulai merasa nyaman di sini. Itu yang membuatku sedih dan takut karena akan berakhir.
Akala, ada banyak lagi hal yang ingin kuceritakan. Ada banyak kisah yang ingin kubagikan. Ada banyak tanya yang ingin kuutarakan. Ada banyak hal yang ingin kuketahui dan kudengar dari sudut pandangmu.
Akala, kau tahu, bahkan tanpa pandemi ini sudah cukup sulit untuk kita bertemu. Bahkan pandemi ini sendiri pun sudah cukup sulit dilalui sendiri suatu waktu. Aku hanya ingin bertemu, minimal melihat dan mendengar suaramu. Tapi kita bahkan tidak cukup dekat untuk sekadar sering bertukar pesan, apalagi untuk menelfon atau video call. Ketidakmungkinan itu hanya bisa kutanggapi dengan senyum miris. Betapa aku menanti update postingan di sosial mediamu yang jarang sekali kamu lakukan. Sibukkah kamu? Aku ingin tahu, tapi siapa aku? Pertanyaan yang membuatku menangis ketika menulis ini.
Akala, aku ingin mampir ke tempatmu. Ingin yang belum sempat kukabul ketika aku berapa di sana waktu itu. Ingin yang mungkin tidak akan pernah terkabul.
Akala, kita itu kontras sekali. Kamu membuat ruang untuk bertemu di masa depan sedang aku merusak ruang untuk menemukan masa lalu. Bisakah kita melengkapi satu sama lain? Lagi-lagi, sebuah pertanyaan yang hanya menggantung di udara dan tidak akan pernah kutahu jawabannya.
Akala, sekian dulu. Ini sudah pukul sepuluh. Sampai bertemu, entah kapan itu.