Langsung ke konten utama

The perfect place doesn't exist

Kurasa, menulis untukmu lama-lama menjadi candu. Setiap kali aku terpikir atau merasakan sesuatu yang kuingat adalah selalu kamu.

Judul ini kuambil dari twit official akun instagram di twitter. Walaupun tidak ada korelasinya dengan isi blog kali ini. Tapi mari kita gunakan saja.

Buat, Akala.
Aku benci menjadi makhluk nokturnal. Waktu terasa sangat singkat ketika aku menjadi makhluk nokturnal. Tidur di pagi sampai siang hari atau siang hingga sore hari tidak menyehatkan bukan? Tapi akhir-akhir ini siklusnya begitu lagi. Padahal pola tidurku sudah cukup baik pertangahan sampai akhir april kemarin. Bangun pagi sangat menyegarkan dan waktu terasa begitu panjang. 

Akhir-akhir ini menjelang berantakan kembali waktu tidurku, sebelumnya aku dihinggapi mimpi-mimpi aneh. Salah satunya tentangmu. Salah duanya tentang ah terlalu menyeramkan sampai aku takut dan sulit tertidur cepat lagi. Walau malam ini sejujurnya aku lelah dan sangat mengantuk. Entah kenapa diriku tidak mau menurut.

Buat, Akala.
Jika dunia paralel ada, sedang apa kita? Apakah aku memiliki kehidupan yang sama dengan aku yang sekarang? Atau sangat jauh berbeda? Lalu, bagaimana hidupmu? Kemudian, apa kita saling mengenal? Ada banyak pertanyaan acak yang ingin aku ajukan untuk membunuh malam.

Hujan labil di sini hari ini. Datang sebentar kemudian pergi. Hawa panas melingkupi sejak siang tadi. Aku sudah mandi. Tapi rasanya masih gerah sekali.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...