Langsung ke konten utama

Mimpi Semalam

Aku senang akhirnya kita kembali bertemu di hari ke-24 sejak pertemuan kita yang terakhir dengan situasi yang entah bisa disebut lebih baik atau tidak. Kamu ada di sana, di sebuah rumah yang ramai orang karena sedang ada pesta atau perayaan yang aku juga tidak tahu untuk apa. Di samping rumah tersebut terdapat toko kelontong. Aku melihatmu yang sedang mengobrol santai di ruang tengah dari depan pintu masuk. Lama kutatap dari jauh, kakiku melangkah pelan menuju kamu. Aku ingin sekali terlibat percakapan denganmu. Belum sampai dekat denganmu, aku dipanggil oleh seseorang yang tidak jelas siapa. Seorang wanita yang menyuruhku membeli masker untuk semua orang di sana.

"Ah, lagi-lagi gagal.", keluhku. Aku penasaran, kenapa selalu tidak bisa mendekat. Aku berjalan keluar. Menjauh dari sosokmu yang bersinar dengan terang. Meninggalkan harapan agar kamu mendekat karena aku tidak bisa menghampirimu.

Toko kelontong di samping rumah kehabisan masker. Sempat kukira mereka menyembunyikan satu kardus, tapi katanya benar-benar habis. Aku menyerah dan memutuskan mencari ke tempat lain ketika pintu terbuka dan kamu masuk. Akhirnya, kita terlibat percakapan yang ku syukuri dengan sangat.

"Lagi apa?", tanyamu.

"Disuruh beli masker untuk semua orang di perayaan. Tapi di sini habis. Kayaknya aku harus cari ke tempat lain.", jawabku. Aku berjalan keluar mengakhiri percakapan kami. Siapa sangka kemudian kamu menyusul. Perjalanan pertama dalam diam yang menyenangkan. Hanya berjalan bersama. Tanpa percakapan apapun.

Anehnya, tiba-tiba beberapa meter di depan terdapat perayaan. Setiap satu dari lima rumah di sepanjang jalan yang akan kita lalui mengadakan pesta. Meski kebingungan, kami tetap berjalan, sampai ada seorang laki-laki berbaju merah menghampiriku dari arah kanan. Laki-laki itu berjalan seperti tidak sadar dan mendekatiku. Kamu kemudian pindah berdiri dari sisi kiri ke sisi kananku. Kamu mengajakku tetap berjalan dengan waspada. Tapi, dari sisi kiri di depan muncul laki-laki berbaju merah dari perayaan lainnya yang menghampiriku. Aku agak panik, tetapi entah mengapa tetap tenang karena ada kamu. Kamu menyuruhku untuk berjalan duluan.

"Apapun yang terjadi, jalan aja. Jangan berhenti.", katamu.

Ketika dua orang berbaju merah tersebut sangat dekat, kamu mengalihkan perhatian mereka dan menyuruhku lebih dulu. Namun, tiba-tiba ada orang lain berbaju hitam dari arah belakang yang menggantikan posisimu. Dia memintaku tetap berjalan, mengajakku pergi menjauh dari kamu yang berusaha menghalau dua laki-laki berbaju merah. Aku kebingungan. Naluri memintaku untuk tidak menjauh darimu dan kupaksa diriku untuk bangun.

Ketika aku sudah terbangun, debaran di dadaku terasa sangat kencang. Kupaksakan kembali tidur untuk memastikan kamu baik-baik saja. Kukira harapku akan terwujud dengan kembali memimpikanmu, ternyata tidak. Aku memang kembali bermimpi, tetapi itu bukan kamu.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara