Pada desir yang pernah kutunggu dan kunikmati tiap helanya, aku membisik harap dan memintanya untuk menerbangkan itu ke angkasa. Biar ia menyatu dengan awan-awan yang berkumpul berarak beringinan. Biar ia bersama dengan harap-harap lain yang beterbangan. Tidak sendiri dalam kesepian.
Pada desir yang lama-lama menjelma angin puyuh tiba-tiba. Mereka berlindung di balik papan kayu tipis yang sebentar lagi terangkat. Aku mungkin aman, tapi bagaimana bisa hatiku tega membiarkan. Dengan segenap apa yang aku punya, aku berlari memeluk duri tanpa sadar aku tersakiti. Berdarah-darah di sini. Tapi aku sudah terjebak. Aku tidak bisa menangis. Aku tidak bisa pergi.
Pada angin puyuh yang telah memporak-porandakan jiwaku. Aku tidak tahan lagi.