Langsung ke konten utama

27 Desember 2020

Hal yang paling menyesakan dari kehilangan adalah perasaan yang tidak bisa dijelaskan karena telah ditinggal seorang diri, terutama jika untuk selamanya.

Ketakutanku yang paling dalam terjadi 27 Desember 2020 kemarin. Tidak kusangka itu akan menjadi hari terakhir aku melihatnya. Memoriku kembali pada 3 hari sebelumnya. Hari terakhir aku bersamanya di rumah. Hari terakhir aku melihatnya membuka mata.

Di pagi yang hening ketika mataku baru bisa terpejam, suara ketukan pintu yang nyaring membuatku terbangun dengan kepala pusing. Kabar yang terdengar bagai sambaran petir. Kukira aku masih berada di dalam mimpi tatkala tubuhku berjalan hilir mudik sambil bertanya, "aku harus apa?". Di sisi lain otakku berputar bagaimana membangunkan adik-adikku untuk menyampaikan berita duka. Kami menangis. Kami menyangkal. Kami menolak. Kami menerima. Kami mengikhlaskan. Minggu pagi yang tidak pernah kami harapkan terjadi bergerak lambat. Sangat lambat. Masih pagi. Aku belum mandi. Tapi aku sudah memandikannya untuk kali pertama dan terakhir. Sirna sudah segala rencana yang kukhayalkan selama ini. Harap, semangat, dan segala alasanku berupaya sejauh ini seakan lenyap. Ikut serta bersama tubuhnya yang terkubur di sana.

Meski aku mencoba dan terus mencoba untuk berhenti berlinang air mata seperti pintanya dulu, aku tidak bisa. Bahkan hingga kini aku masih sering menitikkan tangis, dalam hening, dalam diam, siang dan malam, sendirian.

Kini kupertanyakan lagi untuk apa aku berjuang ketika alasan itu telah menghilang. Meski masih ingin kuwujudkan segala yang pernah kami rancang bersama, rasanya kakiku tidak sanggup lagi melangkah. Aku tidak lagi punya keyakinan dan aku tidak lagi punya penopang.

Tidak ada yang bisa. Tidak seorangpun bisa. Bahkan aku tidak pernah tega mencuri waktu orang-orang. Sementara ia, segala waktunya hanya untukku tanpa kupinta. Kapanpun ku perlukan, aku tidak butuh janji temu atau menanyakan sedang apa. Aku tidak perlu takut mengganggu waktunya karena memang hanya untukku. Dan sekarang ia sudah tidak ada. Aku ditinggal sendirian. Benar-benar sendirian.

3 Januari 2021, tepat seminggu kepergiannya. Aku memulai tahun yang baru tanpa masakannya, tanpa sapa darinya, tanpa ia yang membuka pintu kamarku tiap pagi agar aku terbangun. Rasanya seperti masih ada dirinya. Ia hanya pergi mengaji sebentar atau pergi olahraga pagi seperti minggu-minggu yang lalu bersama pasangannya. Tapi minggu ini, pasangannya bahkan sendirian terduduk di depan tv yang biasa mereka tonton bersama. Pemandangan yang tidak biasa tapi akan menjadi kebiasaan baru segera.

4 Januari 2021, aku kembali bekerja dan sudah tidak ada lagi yang menanyakanku apakah sudah selesai bekerja atau belum. Tidak ada lagi yang menyuruhku makan dan menutup pintu. Aku bahkan harus memasak makanan untuk kami sekeluarga sekarang. Rasanya begitu menyesakan karena aku begitu keras bekerja akhir tahun lalu demi mendapatkan lebih banyak tambahan untuk bisa mengajaknya bepergian. Belum sempat itu kulakukan, dia sudah pergi sendirian menuju kejauhan. Meninggalkan begitu banyak kenang dan keinginan yang ia tahan, keinginan yang belum sempat aku kabulkan.

Sampai tulisan ini dibuat, aku masih menangis pelan-pelan. Dan hujan membuat air mataku ikut merintik semakin deras. Sejujurnya, ada banyak sekali hal yang memancing air mataku keluar, bahkan hanya dengan melihat sabun cuci di kamar mandi.

Kesedihan yang paling mendalam kurasakan ketika adikku membacakan pesan whatsapp terakhir mamaku saat ia masih sehat dan mau makan. 28 November 2020, pesan itu berbunyi "Hore makan malam bersama". Dan sampai akhir, permintaannya sangat sederhana. Janjinya pada Penciptanya pun sederhana. Ia tidak ingin merepotkan siapapun, bahkan keluarganya sendiri.

Selamat jalan alarm pagiku. Beristirahatlah dengan tenang kompas hidupku. Separuh jiwaku yang terbang ke angkasa, Mama.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...