Langsung ke konten utama

Sebulan Pertama

Dalam hening, dalam diam. Ketika malam semakin matang. Aku paham dan menerima perasaan yang keluar semakin tajam. Remuk redam menyala di kegelapan. Kunikmati kesendirian yang benar-benar nyata sekarang. Sampai pagi meninggi, aku masih belum bisa mengiyakan semua baik-baik saja. Aku masih mencoba bersembunyi dari segala. Mencari-cari lagi alasan untuk kembali seperti sedia kala. Meraba-raba sambil mencoba tetap melakukan segala kebiasaan yang ada.

Pergantian tahun kali ini adalah sebuah ujian paling luar biasa. Banyak hal di keseharian berubah. Pun sampai detik ini aku masih berusaha beradaptasi dengan aktivitas dan keadaan. Ada waktu-waktu ketika aku mempertanyakan pada diriku sendiri, "kuatkah aku menjalani tahun ini?". Pertanyaan yang bermuara pada kebencian dengan semua hal yang aku lakukan saat ini. Aku yang selalu yakin dengan segala hal yang kujalani mendadak kehilangan arah dan pegangan. Aku belum pernah sejatuh ini. Aku belum pernah merasa setidak berdaya ini.

Namun siapa aku yang bisa menghakimi kehendak Tuhan? Bukankah selama ini aku masih selalu meminta yang terbaik? Mungkin yang terbaik versinya adalah memanggil mamaku kembali pulang padaNya. Pada akhirnya aku menerima, mengikhlaskan, meminta ketabahan dan kelapangan dada. Aku sadar, dunia akan tetap berjalan meski aku diselimuti duka dan luka.

Di sela aku yang masih mencoba berdamai dengan keadaan dan bersahabat dengan waktu, banyaknya kabar baik didekatku juga membuatku tersadar. Aku akhirnya mencoba keluar. Menyapa sekeliling dan menyelamati kebahagiaan yang singgah pada sekitar. Semua orang sedang berjuang. Semua orang telah berjuang. Aku juga harus berjuang.

Kemarin, 27 Januari 2021, tepat sebulan lalu kabar duka membangunkanku dari tidur yang tidak tenang. Hari ini, saat ini, aku berusaha mencari lagi sisa harapan. Membangun kembali keyakinan yang luluh lantak. Sendirian.