Ada yang muncul setelah lama menghilang. Kukira satu tempat itu sudah lama tandus dan tidak akan lagi tumbuh benih apapun. Aku sudah lama membunuh semua yang mungkin tumbuh. Aku sudah lama menutup rapat setiap celah agar tidak ada yang masuk. Aku takut. Terlampau takut untuk sekadar berharap. Terlampau takut untuk sekadar memiliki cita-cita bahagia. Aku takut semua hanya pengulangan dan luka-luka itu hanya terobek semakin lebar. Tapi aku juga ingin kembali merasakan jantung yang berdegup kencang ketika melihatmu. Aku ingin kembali merasakan hangat genggaman tanganmu. Aku ingin kembali merasakan waktu-waktu singkat yang telah kita lalui dulu. Ketika mentari sampai di ujung hari. Ketika gelap menyelimuti. Hadirmu menjadi penerang di jalan sepi yang kususuri.
Aku akan menulis kisah kita berkali-kali. Meski di kepalaku terjadi perang yang seru sekali. Aku tidak berharap kamu membaca ini. Juga tak berharap siapapun membaca kisah yang kutulis hanya untuk diriku sendiri. Tak apa. Mereka akan tetap abadi dalam setiap kalimat yang pernah kita rangkai bersama, dalam setiap momen yang pernah kita rekam bersama, dalam setiap alunan langkah kaki yang mengembara kemana-mana, di bawah langit biru tempat kita memintal asa.