Langsung ke konten utama

Janji Temu

November kala itu kita berbagi sebuah janji. Namun setelah itu terucap, yang kutahu hanya abu-abu. 

Hancur lebur aku dalam kubangan angan yang entah kapan akan terkabul. Kukira doaku sudah kalah bertempur di langit. Pun disekitarku semua orang menjerit. Kepayahan, aku mencoba keluar dari jerat yang sudah lama menusuk sekujur tubuh. Saat kukira semua akan menjadi lebih ringan, ternyata tidak sampai disitu. Ketika pagi kembali, yang kutahu duniaku telah berhenti. Di satu titik, aku hanya hidup dari hari ke hari.

Kali ini, aku memenuhi sebuah janji temu. Kali ini, aku datang dengan sisa harapan yang kugenggam erat. Sadar bahwa doaku tidak kalah bertempur di langit. Ia hanya menunggu waktu yang tepat. Saat sudah tidak ada lagi tanya dan saat semua sudah dianggap siap. 

Sabar adalah kata terakhir darimu yang kuingat. Jadi, sejak saat itu aku mencoba untuk lebih bersabar. Kalau kamu ada disini, apa yang akan kamu tanyakan padaku untuk pertama kali? Banyak yang ingin kubagi sambil duduk di teras rumah pada sore hari dan memandang bunga mawar putih yang kita tanam waktu itu. Tapi kita tidak lagi bisa merayakan hari ini. Percakapan-percakapan kecil kita pun tak mungkin lagi terjadi. Satu-satunya yang kubisa hanya bicara pada lidah buaya yang tumbuh besar di sudut teras. Memintanya bertahan menemaniku semampu yang ia bisa. Karena rinduku tak lagi bisa kuutarakan, maka akan kutanam ia bersama semua kenang yang pernah kita bagi bersama.

Dariku yang merindukan alarm pagiku.