Pernah kukira aroma rasa seperti petrikor di savana yang bercampur dengan bunga-bunga liar. Ternyata ada juga yang semanis buah jeruk yang matang sempurna di dahan. Menyegarkan suasana dan menutup pahitnya realita yang waktu itu kurasa.
Lepas aku bercerita padanya yang telah dipeluk alam, aku bercerita padamu tentang jalan panjang penuh kelolakan tajam. Kisah yang telah lama kupendam. Ketakutan yang dalam. Katamu menenangkan emosi yang tumpah ruah. Setelahnya aku menjadi lebih lega. Lalu kita bersama-sama membuka kenangan lama. Aku tertawa sampai lupa bahwa sebelumnya aku sangat terluka.
Aku sudah tidak terlalu terluka atau berduka. Pun hadirmu menjadi angin sepoi ketika terik mentari membara. Meski itu bukan rasa yang istimewa, tapi pernah begitu melapangkan dada. Untuk segala canda yang pernah ada, sampai jumpa lagi jika waktunya tiba.