Langsung ke konten utama

Racikan Paling Kejam

​Tuhan, bolehlah aku bertanya bagaimana Kau racik hidupku? Semakin kesini, rasanya semakin pahit. Bolehlah aku mengklaim bahwa diriku adalah racikan paling kejam? Aku bahkan tidak lagi berani berkhayal bagaimana hidup akan terus berjalan, akan jadi apa aku di masa depan, atau akankah aku bisa segera bernafas lega dan menjalani hari-hari dengan langkah yang ringan. Rasanya semua itu jauh dari jangkauan.


Tuhan, bagaimana caranya menjadi bahagia secara alami? Rasanya aku hanya menertawakan keadaan yang selalu menjadikanku anak tiri. Belum lagi orang-orang yang selalu berprasangka. Mereka pikir aku semudah yang mereka terka. Jadi mereka bertingkah semena-mena.


Tuhan, jika kehidupan ini adalah neraka, apakah nanti aku akan mendapatkan surga? Atau aku tetap akan masuk neraka karena mengambil langkah yang salah akibat tidak sanggup menanggung semua?


Tuhan, kenapa Kau ambil hidupku yang tenang? Kenapa Kau beri aku tumpukan tantangan yang tak sulit terurai, mustahil selesai? Aku ingin tidur dengan nyaman. Tanpa isi kepala yang berisik memikirkan bagaimana hari esok berjalan. Tuhan, aku sungguh ingin hidup dengan tenang.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...