Langsung ke konten utama

Bagaimana Caranya Berhenti Berlari?

​Di hidup ini, aku terbiasa berlari. Sejak kecil, aku berlari ketika melewati tempat yang sepi dan gelap. Aku berlari di malam hari mengejar ketertinggalan materi dari teman-teman sekolah yang ikut bimbingan belajar. Aku berlari agar bisa masuk gerbang sekolah sebelum di tutup. Aku berlari lebih kencang ketika masuk di tim olahraga yang berisi para pelari handal. Aku berlari semakin kencang ketika kata-kata menyakitkan datang ke arahku. Aku berlari semakin kencang lagi untuk membuktikan bahwa aku mampu meraih mimpiku. Kini, aku menjadi terbiasa berlari sampai lupa caranya berhenti. Aku berlari dalam diam. Tak ingin orang lain tahu betapa melelahkan dan memuakannya pelarian ini. Meski terkadang aku juga ingin bercerita. Menumpahkan segala penat dan beristirahat sejenak. Tapi jika melakukannya, aku merasa bersalah. Seolah tempatku berpijak akan menghilang. Aku tidak punya apa-apa, juga tidak punya siapa-siapa. Langkahku tidak sebesar mereka. Jadi ketika mereka bisa berjalan dengan nyaman, aku harus berlari kencang agar tidak tertinggal. Hanya saja, kurasa aku sudah berada di ambang batas kesanggupan. Aku selalu berlari, tapi selalu ada yang sampai lebih dulu. Aku selalu berlari, tapi aku selalu di posisi belakang seorang diri. Kaki ku sakit sekali. Tubuhku meronta sesekali, tapi aku tak tahu bagaimana caranya berhenti. Aku ingin berhenti. Aku tidak ingin terus berlari. Pun tak ada yang menungguku di garis finish nanti. Tapi kenapa aku tetap merasa aku harus berlari? Bagaimana caraya berhenti?

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara