Di hidup ini, aku terbiasa berlari. Sejak kecil, aku berlari ketika melewati tempat yang sepi dan gelap. Aku berlari di malam hari mengejar ketertinggalan materi dari teman-teman sekolah yang ikut bimbingan belajar. Aku berlari agar bisa masuk gerbang sekolah sebelum di tutup. Aku berlari lebih kencang ketika masuk di tim olahraga yang berisi para pelari handal. Aku berlari semakin kencang ketika kata-kata menyakitkan datang ke arahku. Aku berlari semakin kencang lagi untuk membuktikan bahwa aku mampu meraih mimpiku. Kini, aku menjadi terbiasa berlari sampai lupa caranya berhenti. Aku berlari dalam diam. Tak ingin orang lain tahu betapa melelahkan dan memuakannya pelarian ini. Meski terkadang aku juga ingin bercerita. Menumpahkan segala penat dan beristirahat sejenak. Tapi jika melakukannya, aku merasa bersalah. Seolah tempatku berpijak akan menghilang. Aku tidak punya apa-apa, juga tidak punya siapa-siapa. Langkahku tidak sebesar mereka. Jadi ketika mereka bisa berjalan dengan nyaman, aku harus berlari kencang agar tidak tertinggal. Hanya saja, kurasa aku sudah berada di ambang batas kesanggupan. Aku selalu berlari, tapi selalu ada yang sampai lebih dulu. Aku selalu berlari, tapi aku selalu di posisi belakang seorang diri. Kaki ku sakit sekali. Tubuhku meronta sesekali, tapi aku tak tahu bagaimana caranya berhenti. Aku ingin berhenti. Aku tidak ingin terus berlari. Pun tak ada yang menungguku di garis finish nanti. Tapi kenapa aku tetap merasa aku harus berlari? Bagaimana caraya berhenti?
Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.