Di hidup ini, aku terbiasa berlari. Sejak kecil, aku berlari ketika melewati tempat yang sepi dan gelap. Aku berlari di malam hari mengejar ketertinggalan materi dari teman-teman sekolah yang ikut bimbingan belajar. Aku berlari agar bisa masuk gerbang sekolah sebelum di tutup. Aku berlari lebih kencang ketika masuk di tim olahraga yang berisi para pelari handal. Aku berlari semakin kencang ketika kata-kata menyakitkan datang ke arahku. Aku berlari semakin kencang lagi untuk membuktikan bahwa aku mampu meraih mimpiku. Kini, aku menjadi terbiasa berlari sampai lupa caranya berhenti. Aku berlari dalam diam. Tak ingin orang lain tahu betapa melelahkan dan memuakannya pelarian ini. Meski terkadang aku juga ingin bercerita. Menumpahkan segala penat dan beristirahat sejenak. Tapi jika melakukannya, aku merasa bersalah. Seolah tempatku berpijak akan menghilang. Aku tidak punya apa-apa, juga tidak punya siapa-siapa. Langkahku tidak sebesar mereka. Jadi ketika mereka bisa berjalan dengan nyaman, aku harus berlari kencang agar tidak tertinggal. Hanya saja, kurasa aku sudah berada di ambang batas kesanggupan. Aku selalu berlari, tapi selalu ada yang sampai lebih dulu. Aku selalu berlari, tapi aku selalu di posisi belakang seorang diri. Kaki ku sakit sekali. Tubuhku meronta sesekali, tapi aku tak tahu bagaimana caranya berhenti. Aku ingin berhenti. Aku tidak ingin terus berlari. Pun tak ada yang menungguku di garis finish nanti. Tapi kenapa aku tetap merasa aku harus berlari? Bagaimana caraya berhenti?
Poem and story enthusiast. An amateur author. Trying to productive.