Semesta begitu suka bercanda, terutama denganku. Setahun lalu, ia membuatku bercerita sambil menangis tersedu-sedu. Tahun ini, ia membuatku menceritakan hal yang sama sambil tersenyum seolah itu sudah terlalu jauh. Apakah aku sudah mengikhlaskan semua itu?
Semesta senang memberiku kejutan. Ia membuatku merasakan letupan-letupan kebahagiaan juga diiringi dengan sengatan-sengatan berbahaya yang hampir merenggut nyawa dan kewarasan. Sampai saat ini, aku tidak tahu mengapa aku begitu kuat bertahan. Daya juangku begitu menakjubkan bukan?
Untukku, Semesta enggan menjadi teman. Ia lebih suka menjadi musuh bebuyutan. Sejak dulu, tak diizinkannya aku mendapatkan yang kuinginkan. Ia juga sering membuatku penasaran. Meski tak jarang, ia menuntunku pada banyak kesempatan dan mengajakku menyicipi berbagai pengalaman. Oleh karena itu, aku tidak lagi mengotakan kebaikan dan kejahatan. Jadi tanpa ku sadar, aku mulai berhenti mempertanyakan. Kurasa, semua hal punya alasan. Sekarang aku memilih untuk hidup tanpa tahu apa-apa dibanding mencari jawaban. Apa aku sepasrah itu menghadapi kehidupan?
Semesta, aku pernah punya begitu banyak harapan. Aku pernah menaruh begitu banyak kepercayaan. Aku juga begitu sering merasa tidak berhak akan banyaknya keberuntungan. Tapi aku sudah sangat kesepian dan kelelahan. Jika aku tidak lagi punya ambisi untuk melakukan apa pun atau menjadi apapun, jika aku hanya ingin menjalani kehidupan yang damai dan tenang, tidak apa-apa kan?