Aku tidak pernah menyukai status sebagai seorang anak perempuan pertama. Sejak kecil, aku sudah merasakan beratnya beban seorang sulung. Aku ingat bagaimana aku diminta untuk mengerti keadaan ekonomi keluarga bahkan ketika aku masih terlalu kecil untuk paham. Aku ingat ketika aku diminta membantu pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan orang dewasa tanpa kompromi bahwa aku masih anak-anak. Aku ingat ketika aku diminta untuk selalu mengalah dan menunda keinginanku sampai aku lupa bahwa aku begitu menginginkannya. Aku bahkan masih ingat ketika aku diminta untuk selalu menjadi sempurna dengan embel-embel bahwa aku adalah seorang panutan. Aku yang masih begitu kecil sudah ditimpa dengan tanggungjawab yang begitu besar. Apakah aku mengeluh? Tentu tidak karena waktu itu aku begitu takut untuk mengeluh. Waktu itu, kekuranganku adalah sebuah kesalahan besar yang harusnya tidak boleh ada. Begitulah aku tumbuh sampai menjadi orang dewasa yang mementingkan pandangan orang lain, tidak enak menol...
Poem and story enthusiast. An amateur author. Trying to productive.