Langsung ke konten utama

Kenapa Aku Harus Menjadi Seorang Sulung?

​Aku tidak pernah menyukai status sebagai seorang anak perempuan pertama. Sejak kecil, aku sudah merasakan beratnya beban seorang sulung. Aku ingat bagaimana aku diminta untuk mengerti keadaan ekonomi keluarga bahkan ketika aku masih terlalu kecil untuk paham. Aku ingat ketika aku diminta membantu pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan orang dewasa tanpa kompromi bahwa aku masih anak-anak. Aku ingat ketika aku diminta untuk selalu mengalah dan menunda keinginanku sampai aku lupa bahwa aku begitu menginginkannya. Aku bahkan masih ingat ketika aku diminta untuk selalu menjadi sempurna dengan embel-embel bahwa aku adalah seorang panutan. Aku yang masih begitu kecil sudah ditimpa dengan tanggungjawab yang begitu besar. Apakah aku mengeluh? Tentu tidak karena waktu itu aku begitu takut untuk mengeluh. Waktu itu, kekuranganku adalah sebuah kesalahan besar yang harusnya tidak boleh ada. Begitulah aku tumbuh sampai menjadi orang dewasa yang mementingkan pandangan orang lain, tidak enak menolak permintaan orang lain, dan selalu takut ditinggal sendirian karena mengecewakan orang lain.


Ketika aku mulai bisa berpikir rasional sebagai manusia dewasa awal, aku akhirnya memberontak. Meski terlambat, waktu itu aku membuat perjanjian dengan orangtuaku. Selepas tuntas sudah sekolahku, aku akan memulai hidupku sendiri. Belajar mandiri menjadi orang dewasa seutuhnya yang bebas. Kupikir, waktu itu aku benar-benar bisa mewujudkannya. Ternyata semesta tidak mengizinkannya. Takdir memang selalu jahat padaku.


Pandemi melanda. Orangtuaku sakit. Aku harus menahan diri sekali lagi sambil berusaha menjaga kewarasan. Bekerja tanpa mengenal siang atau malam. Menerobos jam biologis tubuh sampai di luar nalar. Pada akhirnya orangtuaku tetap tidak bisa menepati janjinya padaku. Sekali lagi, aku terpaksa harus mengalah dan memendam keinginanku. Di umur 23 tahun, aku berperan tidak hanya sebagai seorang sulung, tapi juga ibu rumah tangga yang mengurus urusan domestik di rumah, serta kepala keluarga yang bekerja mencari uang untuk menafkahi adik-adikku. Mungkin bagi sebagian orang, ini hal yang lumrah terjadi di banyak tempat, tapi bagiku yang begitu merindukan kebebasan, ini adalah tali yang menjerat leherku kencang-kendang. 


Berjalan 3 tahun sampai sekarang, semua orang berpikir hidupku begitu menyenangkan sampai mereka bilang ingin menjadi aku. Mereka melihatku punya pekerjaan, yang tidak mereka tahu bahwa pekerjaan ini terlalu riskan. Selain itu juga tidak mencukupi kebutuhan hidup 3 orang dewasa. Jadi aku melakukan pekerjaan serabutan lainnya meski hatiku, tubuhku menjerit kesakitan. Tak ada yang tahu aku selalu menangis tiap malam ketika waktu-waktu sulit itu tiba yang siklusnya selalu sama setiap tahun. Bulan tenang hanya ada sekali dua kali, sisanya menggoncang kewarasan akalku sampai aku tak bisa membedakan hitam dan putih. 3 tahun ini hanya ada abu-abu di duniaku. Tidak ada warna-warna lucu. Semua semu. Semua rancu. Orang-orang juga terus memintaku untuk menjadi kuat demi orang lain tanpa ada yang tahu bahwa diriku sudah begitu rapuh. Bahkan aku hanya hidup demi hal-hal kecil yang remeh tanpa punya impian besar karena aku terlalu takut itu membuatku semakin tertekan.


Jalan yang aku lalui 3 tahun ini begitu terjal. Penuh kerikil tajam. Tapi orang-orang terus menyuruhku berlari meski kakiku sudah luka-luka. Lalu ketika aku mengambil arah yang salah, mereka menghakimi tanpa mau berkompromi atas keadaan diriku yang tinggal serpihan.


Aku tidak ingin menjadi sebuah pohon yang meneduhkan. Aku tidak ingin memberikan rasa nyaman dan aman. Aku tidak ingin menjadi yang paling pengertian. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang selalu ada di garda terdepan. Aku tidak ingin statusku saat ini, juga peran yang aku jalani. Aku tidak ingin semua ini. Tapi bahkan setelah menuliskan semua ini pun, hatiku tidak menjadi lega. Kepalaku tidak menjadi ringan. Keadaan masih tetap sama. Tidak bersahabat dan lagi-lagi meminta pengertian.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara