Langsung ke konten utama

Janji Manis si Dedalu

Pada anak kecil yang lugu itu, ia mendongeng sebuah kisah yang seru. Di dalamnya terselip janji yang semanis madu. Janji manis yang menumbuhkan harap semu. Si anak kecil begitu riang dikipasi angan-angan yang dulu tak pernah ada dalam benaknya. Mendengar semua itu, ia jadi merasa aman. Sebuah rasa yang salah karena janji manis tak pernah mampu memberi rasa aman. Janji manis tak pernah melindungi. Itu hanya membuat si anak berjuang sangat keras seorang diri. Saat sudah tak lagi mungkin ia jalani, anak itu menangis pada dedalu dan dedalu tak lagi peduli. Dedalu pergi. Si anak kepayahan bertahan agar tak mati.

Dedalu itu jahat sekali. Ia berbahagia kini. Dirayakan dengan amat sangat. Tersenyum dan tertawa sepanjang waktu karena masa depan sudah ia genggam dengan erat. Dedalu dan orang-orang yang merayakannya lupa bahwa rasa sakit yang dialami si anak telah menjelma sebongkah salju yang menuruni gunung es ke tempat mereka berada.

Si anak memang pernah berkata ia tak marah, tapi ia selalu berdoa agar dedalu dan yang merayakannya selalu merasa gelisah, terus merasa bersalah. Sampai bongkah salju itu nantinya meledak di tempat mereka berada, mereka baru sadar bahwa tawa mereka menorehkan luka yang besar. Bahwa perayaan itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Bahwa kesalahan mereka sendiri menyakiti banyak orang. Tapi sampai saat itu pun, mereka akan terus menyangkal dan berteriak bahwa mereka korbannya. Saat itu, si anak telah merekah indah, berkilau, dan tidak bisa disakiti lagi.