Semesta, taukah kau apa yang membuat perpisahan tidak begitu menyesakkan? Karena kita masih ada dan berbahagia. Aku bahagia karena masih bertahan. Kau bahagia dengan hidup yang kau pilih. Meski jalan kita tak lagi mengarah pada satu titik temu, aku bahagia karena tau kau ada. Setidaknya, keberadaanmu yang entah dimana itu menjadi pegangan untukku. Ada seseorang yang kuharap bisa kutemui lagi. Maka aku akan selalu mengadu padamu melalui tulisan-tulisan yang tak akan dibaca olehmu dan tidak dipedulikan orang-orang.
Kali ini aku sungguh penasaran. Sejauh mana lagi aku harus berjuang? Mungkin semua orang yang beririsan denganku sudah lelah mendengar pertanyaan itu terlontar. Tapi sungguh aku ingin mendapat sebuah jawaban. Sejauh yang mampu ku tempuh, aku bisa menghitung jejak-jejak bahagia samar yang pernah tergambar. Tak utuh sempurna. Kubilang samar karena setelah bahagia itu, aku kembali merana. Beberapa bilang aku pejuang, yang lainnya bilang aku terlalu berlebihan. Maka aku sangat ingin mengubah diriku. Membuat diriku menjadi sedingin mungkin hingga tak tersentuh. Aku memang tidak akan pernah bisa dimengerti orang-orang. Aku memang pantas sendirian. Begitu pikirku. Nyatanya aku justru berbuat sebaliknya. Bukannya semakin dingin, aku malah semakin hangat dan ramah. Menyapa sekitar dengan senyum lebar dan menawarkan bantuan. Tubuhku mengambil kendali dan menolak hatiku mentah-mentah. Jadilah aku seperti sekarang.
Semesta, aku harus pergi. Aku tau aku harus pergi dari tempat dimana aku beredar selama ini. Bukan untuk sembunyi dan lari, tapi aku merasa aku benar-benar harus pergi. Menyelamatkan diri sendiri jauh lebih penting. Selama masih di sini, aku akan terus mengulang berkali-kali kaset yang sama. Rasa seperti lari di tempat. Semua distraksi yang kulakukan pun tak ada dampak. Aku harus mencari coping mechanism yang lain. Bisakah aku meminjam kekuatanmu sebentar? Agar aku bisa menjejakan kaki ke sebuah ruang hampa tanpa rasa. Jadi aku tidak terombang-ambing tanpa arah.
Aku selama ini hanya diam. Sudah tak bertenaga menanggapi dunia yang kejam. Sedang masa depan terpantau seram. Tak tau apa yang harus aku perbuat bahkan untuk esok malam. Semesta, Alam, Jagat. Akan ku sebut diriku berulang-ulang. Setiap hari, setiap saat.