Langsung ke konten utama

Jumat Malam

​Semesta, taukah kau apa yang membuat perpisahan tidak begitu menyesakkan? Karena kita masih ada dan berbahagia. Aku bahagia karena masih bertahan. Kau bahagia dengan hidup yang kau pilih. Meski jalan kita tak lagi mengarah pada satu titik temu, aku bahagia karena tau kau ada. Setidaknya, keberadaanmu yang entah dimana itu menjadi pegangan untukku. Ada seseorang yang kuharap bisa kutemui lagi. Maka aku akan selalu mengadu padamu melalui tulisan-tulisan yang tak akan dibaca olehmu dan tidak dipedulikan orang-orang.


Kali ini aku sungguh penasaran. Sejauh mana lagi aku harus berjuang? Mungkin semua orang yang beririsan denganku sudah lelah mendengar pertanyaan itu terlontar. Tapi sungguh aku ingin mendapat sebuah jawaban. Sejauh yang mampu ku tempuh, aku bisa menghitung jejak-jejak bahagia samar yang pernah tergambar. Tak utuh sempurna. Kubilang samar karena setelah bahagia itu, aku kembali merana. Beberapa bilang aku pejuang, yang lainnya bilang aku terlalu berlebihan. Maka aku sangat ingin mengubah diriku. Membuat diriku menjadi sedingin mungkin hingga tak tersentuh. Aku memang tidak akan pernah bisa dimengerti orang-orang. Aku memang pantas sendirian. Begitu pikirku. Nyatanya aku justru berbuat sebaliknya. Bukannya semakin dingin, aku malah semakin hangat dan ramah. Menyapa sekitar dengan senyum lebar dan menawarkan bantuan. Tubuhku mengambil kendali dan menolak hatiku mentah-mentah. Jadilah aku seperti sekarang.


Semesta, aku harus pergi. Aku tau aku harus pergi dari tempat dimana aku beredar selama ini. Bukan untuk sembunyi dan lari, tapi aku merasa aku benar-benar harus pergi. Menyelamatkan diri sendiri jauh lebih penting. Selama masih di sini, aku akan terus mengulang berkali-kali kaset yang sama. Rasa seperti lari di tempat. Semua distraksi yang kulakukan pun tak ada dampak. Aku harus mencari coping mechanism yang lain. Bisakah aku meminjam kekuatanmu sebentar? Agar aku bisa menjejakan kaki ke sebuah ruang hampa tanpa rasa. Jadi aku tidak terombang-ambing tanpa arah.


Aku selama ini hanya diam. Sudah tak bertenaga menanggapi dunia yang kejam. Sedang masa depan terpantau seram. Tak tau apa yang harus aku perbuat bahkan untuk esok malam. Semesta, Alam, Jagat. Akan ku sebut diriku berulang-ulang. Setiap hari, setiap saat.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara