Langsung ke konten utama

Yang Kutemui di Seberang Jalan

Tengah tahun lalu, aku menghitung degup yang berdetak kencang. Menenangkan hati dengan helaan nafas panjang. Butuh keberanian sebesar itu untuk bertemu denganmu. Butuh waktu selama itu untuk menyambangimu. Maka tatkala kulihat rupamu di balik pintu, aku tersenyum canggung. Apa yang harus kulakukan pun aku tak tahu. Entah kamu menyadarinya atau tidak, yang kutahu kamu membimbingku. Pelan memberitahuku ini dan itu. Hatiku tersentuh kesabaranmu. Waktu itu, sejujurnya aku masih ragu, tapi ucapan syukur dari mu setiap kita bertemu sedikit demi sedikit meneguhkan hatiku. Aku tidak ingin ini segera berakhir. Aku ingin tetap lama bersamamu.

Setelah itu, aku menyadari bahwa aku mengagumi hal baru. Suara lembut dan syahdu. Pernah ku bertanya sendiri kenapa kau mengulang itu. Ternyata, jiwa mu sebagian dari itu. Aku selalu mengangumi ketulusanmu. Keinginan bertumbuh denganmu adalah kebahagiaan. Harmoni yang terjalin indah bak warna langit yang cerah. Kerlip kuming keemasan memancarkan pesona yang membingkai wajahmu dengan sempurna. Aku menyukainya. Binar yang terpancar tiap kali kau menyapa dengan ramah. Sikap mu membuktikan segalanya. Aku menyukai ketika kau mengamati, ketika kau menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, ketika kau begitu sabar dan tekun menjalani, ketika kau memberi saran untuk berhati-hati. Kemudian dalam diam ku di jalan pulang, aku mendoakan mu lagi. Juga di malam-malam setelahnya berkali-kali sampai perjumpaan kita yang berikutnya nanti. 

Kemudian namamu menjadi kata yang ku lafal tiap kali aku melakukan sesuatu. Ketika kelelahan mendaki, ketika selesai membaca buku, ketika aku mengerjakan pekerjaan baru, ketika aku bermain dengan komunitasku, ketika menghadiri seminar dan menjadi moderator, ketika aku ingin melakukan banyak hal. Karena mu, aku jadi ingin terus bertumbuh. Ingin terus melakukan banyak hal yang menyenangkan. Ingin terus bercerita bahwa jika bukan karena mu, jika kita tidak bertemu, aku tidak akan merasakan sehidup ini. 

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara