Tengah tahun lalu, aku menghitung degup yang berdetak kencang. Menenangkan hati dengan helaan nafas panjang. Butuh keberanian sebesar itu untuk bertemu denganmu. Butuh waktu selama itu untuk menyambangimu. Maka tatkala kulihat rupamu di balik pintu, aku tersenyum canggung. Apa yang harus kulakukan pun aku tak tahu. Entah kamu menyadarinya atau tidak, yang kutahu kamu membimbingku. Pelan memberitahuku ini dan itu. Hatiku tersentuh kesabaranmu. Waktu itu, sejujurnya aku masih ragu, tapi ucapan syukur dari mu setiap kita bertemu sedikit demi sedikit meneguhkan hatiku. Aku tidak ingin ini segera berakhir. Aku ingin tetap lama bersamamu.
Setelah itu, aku menyadari bahwa aku mengagumi hal baru. Suara lembut dan syahdu. Pernah ku bertanya sendiri kenapa kau mengulang itu. Ternyata, jiwa mu sebagian dari itu. Aku selalu mengangumi ketulusanmu. Keinginan bertumbuh denganmu adalah kebahagiaan. Harmoni yang terjalin indah bak warna langit yang cerah. Kerlip kuming keemasan memancarkan pesona yang membingkai wajahmu dengan sempurna. Aku menyukainya. Binar yang terpancar tiap kali kau menyapa dengan ramah. Sikap mu membuktikan segalanya. Aku menyukai ketika kau mengamati, ketika kau menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, ketika kau begitu sabar dan tekun menjalani, ketika kau memberi saran untuk berhati-hati. Kemudian dalam diam ku di jalan pulang, aku mendoakan mu lagi. Juga di malam-malam setelahnya berkali-kali sampai perjumpaan kita yang berikutnya nanti.
Kemudian namamu menjadi kata yang ku lafal tiap kali aku melakukan sesuatu. Ketika kelelahan mendaki, ketika selesai membaca buku, ketika aku mengerjakan pekerjaan baru, ketika aku bermain dengan komunitasku, ketika menghadiri seminar dan menjadi moderator, ketika aku ingin melakukan banyak hal. Karena mu, aku jadi ingin terus bertumbuh. Ingin terus melakukan banyak hal yang menyenangkan. Ingin terus bercerita bahwa jika bukan karena mu, jika kita tidak bertemu, aku tidak akan merasakan sehidup ini.