Siapa yang udah nonton Jumbo? Pasti tau dong sama soundtracknya yang viral? Yups, Selalu Ada di Nadimu karya Laleilmanino. Lagu ini bagus banget bahkan bikin banyak orang dewasa nangis bombay walau udah dengerin berkali-kali. Aku pun. Entah udah berapa kali cover lagu tersebut lewat, bahkan aku ikutan nyanyiin, tetep bikin mix feeling. Rasanya kayak nyesek, terharu, sedih, dan kuat di saat bersamaan. Terutama di part,
Sedikit demi sedikit
Engkau akan berteman pahit
Luapkanlah saja bila harus menangis
Anakku, ingatlah semua
Lelah tak akan tersia
Usah kau takut pada keras dunia
Jujur part ini bikin flashback dengan keadaan 5 tahun terakhir yaitu di tahun 2020 sampai saat ini. Pahit versiku dimulai di awal tahun 2020 ketika aku baru lulus kuliah dan semangat-semangatnya mengerjakan beberapa proyek kerjaan, tiba-tiba pandemi Covid-19 menghancurkan itu semua. Sedih, putus asa, tertekan. Bingung mau ngapain, mau mulai dari mana, clueless, ngerasa hidup ini gak berguna dan aku manusia paling gak beruntung di dunia. Bahkan aku bilang ke orang-orang kalau semua keberuntungan hidup ku mungkin udah habis sampai tahun 2019. Rasanya benar-benar aku hidup dalam kabut abu-abu dan ketika aku mencoba mengurangi pekatnya, bukannya berkurang, kabut itu malah semakin tebal. Mama ku jatuh sakit sampai di akhir tahun 2020, beliau berpulang. Lucu ya, itu cuma satu tahun, tapi diterbangkannya terlalu tinggi sampai gak sadar ternyata akan jatuh sesakit itu.
Tahun 2021-2023 aku benar-benar digoyahkan angin karena tak lagi punya penopang. Entah sejak kapan tembok pertahanan ku runtuh. Entah sejak kapan aku menangis terus menerus. Sesak di dada, sakit di kepala, lelah di jiwa dan raga tapi harus tetap bertahan demi beberapa tanggungan dan kewajiban. Pontang-panting mencari cara untuk membuka pintu-pintu kesempatan. Nggak jarang juga pengen menyerah karena merasa nggak sanggup menjalani kehidupan. Aku kemudian menutup diri dari sekitar sampai akhirnya bertemu lingkungan baru. Lingkungan yang membuatku bertumbuh. Lingkungan yang mengajarkan ku banyak hal, menjadi pondasi kehidupan untuk seseorang yang jiwanya sudah mati suri. Aku senang sekali berada di sana, bukan hanya karena aku mendapatkan banyak kesempatan belajar, pengalaman, dan pundi-pundi pemasukan, tapi juga karena aku menemukan ruang aman untuk jiwaku yang rapuh dan kelelahan. Aku bersyukur bertemu dengan orang-orang dewasa yang menakjubkan dan merangkulku mengarungi kerasnya kehidupan ketika aku kehilangan penopang. Karenanya aku bertumbuh sampai bisa berteman dengan pahit di masa sekarang.
Tahun 2024, pelan-pelan aku mulai berteman pahit. Aku membuka diri ke dunia yang lebih luas sambil berharap agar aku tidak diingat sebagai kacang yang lupa akan kulitnya karena sungguh aku sangat ingin menguji kemampuan diri ku kembali. Apakah aku sudah menjadi diri ku sendiri? Apakah aku sudah bisa berdiri tanpa penopang lagi? Apakah aku sudah benar-benar dewasa dan mandiri? Apakah aku sudah benar-benar hidup? Hidup dengan mengamalkan semua yang telah diajarkan oleh orang-orang yang membersamai ku di masa gelap ku. Hidup dengan cara-cara yang baik. Hidup tanpa mengemis sebuah kasih namun justru memberikan kasih yang besar kepada sekitar. Aku sangat ingin bisa melakukannya. Maka ku putuskan mencari ruang-ruang lainnya untuk ku memberanikan diri dan aku menemukannya. Aku menemukan bahwa hidup ku bisa jauh lebih berwarna. Aku menemukan bahwa hidup ku bisa jauh lebih bermakna. Kemudian aku semakin haus untuk melangkah lebih jauh lagi. Aku akhirnya mempunyai mimpi sekali lagi. Setelah tahun-tahun yang sulit dan penuh kegelapan, sejak pertengahan tahun lalu sampai saat ini, semua berangsur-angsur membaik. Semua terasa lebih ringan, jauh-jauh lebih ringan dari yang pernah aku bayangkan. Maka syukurku menjadi berlimpah.
Lelah tak akan tersia. Semua ini pelan-pelan terasa di pengujung 2024. Aku menemukan diriku, menemukan mimpiku, menemukan kembali semangat hidupku. Tanggungan dan kewajibanku perlahan-lahan berkurang. Seolah segala yang selama ini menimpa pundakku mulai terangkat. Aku tiba di masa ini. Masa yang dulu hanya bisa kubayangkan kapan akan terjadi. Masa yang dulu kupikir tak akan mungkin dan jauh sekali. Masa ketika akhirnya aku bisa menempatkan diri ku di prioritas satu lagi. Jadi, ketika nanti semua benar-benar sudah pulih, semua benar-benar sudah selesai ku tangani, aku akan kembali berbincang dengan diriku di tahun 2021 yang menangis sepanjang hari bahwa kita telah melewati semua ini. Usah kau takut pada keras dunia, karena kita telah melewatinya kali ini.