Bagaimana bisa aku melewatkannya, jika setiap kali mencari tahu tentangnya, aku selalu semakin mengaguminya. Bagaimana bisa aku melewatkannya, jika setiap kali merasa lelah dan ingin menyerah, aku menemukan semangat darinya. Bagaimana bisa aku melewatkannya, jika setiap hal yang aku doakan, melekat padanya.
Pada dirinya yang menyadarkan ku bahwa kemampuan otak kanan dan kiri bisa seimbang. Pada dirinya yang mengajarkan ku bahwa kamu hanya perlu keberanian melakukan hal yang sudah kamu ketahui. Pada dirinya yang membuatku ingin selalu bertumbuh dan belajar. Pada dirinya yang membuatku memikirkan masa depan. Dia yang hanya dengan mengetahui hadirnya, aku merasa aman. Dia yang hanya dengan memikirkan pertemuan kami, membuatku juga memikirkan rencana-rencana yang akan datang. Dia yang membuatku meminta pada Tuhan dengan sangat amat agar jika bukan dia, setidaknya seseorang sepertinya.
Ia ditampakkan ketika aku sedang mencoba mengusahakan hidupku. Ia ditampakkan ketika aku mulai menerima diriku. Ia ditampakkan ketika aku berusaha memperbaiki insecurity besar dalam diri dan hidupku. Ia ditampakkan padaku secara perlahan seolah Semesta ingin memberitahuku bahwa sosok itu ada, nyata, dan berjarak begitu dekat ketika aku berani mencoba. Ia ditampakkan padaku sebagai sebuah standar minimal. Ia ditampakkan padaku dengan begitu baik, begitu sempurna sampai aku bertanya-tanya apa kurangnya selain kesibukannya yang kurasa masih bisa ku toleransi. Benarkah? Entahlah, tapi yang jelas, aku merasa yakin bisa bersamanya.
Kuharap Tuhan menyatukan jalan kami dalam sebuah pintu yang sama. Kuharap Tuhan menggerakkan hatinya untuk melihatku lebih dari sekadar seseorang yang terhubung karena hubungan profesional. Kuharap Tuhan menjadikan hubungan kami lebih dari itu. Setelah segala macam tanda diperlihatkan, aku berdoa agar Tuhan bermurah hati padaku untuk memberikan salah satu ciptaan terbaiknya itu padaku.