Langsung ke konten utama

Untuk Aku

Tinta belum mengering
Kertas masih tersusun rapi
Kepala mu tidak pernah hening
Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi

Mungkin kau hanya lupa
atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang 
juga kisah-kisah yang menoreh luka
serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang

Untuk sebuah aku
yang merasa hari-hari begitu hambar
ruang di dada begitu hampa
kapan bunga mekar?
Tak bosan menanti musim semi tiba

Kapan lagi kau akan bercerita?
Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa
Tapi tentang mu yang merajut asa
Api yang masih menyala
Degup yang masih berdetak
Langkah yang mantap

Mari kembali menggores pena
Kata-kata mengudara
bersama cita yang membara
Harap yang merekah indah
Lalu kau berwarna merah
Kembali pada hakikat mu sebagai manusia
Seorang yang gemar bermain aksara

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...