Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

IV

Ini cerita biasa sebenarnya. Tentang kecemasan tengah malam yang sudah lama tidak terjadi. Tapi tekanan membuatku memikirkan ini kembali. Hal-hal yang harus aku tuntaskan dengam segera. Aku takut tidak bisa. Aku takut tidak mampu. Apa aku kurang berusaha? Tapi rasanya tidak begitu. Akala, aku harus apa? Aku takut sekali.

III

Dari jendela kaca bus dua . . . Aku bertemu petang di jalan pulang Katanya selamat bertemu malam Dia akan mengirim dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang Lalu menghembus memori yang sudah lama kau pendam Tapi ia juga suguhi purnama yang indah Dan keramaian yang tak biasa yang bisa kau temukan Setelahnya selamat menyapa pagi Dirimu akan semakin menggigil bekas sisa angin semalam Tapi syahdunya tidak ada yang mengalahkan Karena ia mengantar perjalananmu kembali pulang Mengusir dinginmu dengan hangat perlahan Sebelum panas menyengatmu dengan ganas Sebelum riuh mencambuk kesunyian yang mengukungmu sekarang Selamat kembali pada realita Di mimpi kita berjumpa Dan tawa Dan manis senyummu yang kedua Candu dalam canda Aku ingin lagi melihatnya

II

Sekali lagi aku mengembara Melarikan diri dari huru hara Menuju keasingan tempat tenang ku jumpa Juga pada rasa yang sudah lama ku lupa Ke mana kaki membawa langkah berkelana Meski dalam ramai kau tak dapat ku sua Meski angan dan ingin bertempur di dalam kening Tapi dingin kunikmati dengan sangat bersama pelukan hening Katanya bagiku penyembuhan yang sempurna Dari entah apa yang ku tidak juga tahu sebabnya Tentangnya adalah alasan lainnya Di sana kutemukan andai dan andai yang kuamini dengan segera Harap-harap yang ku tahu terlalu tinggi dipinta Terwujudnya ku syukuri meski tidak benar-benar nyata I(y)a Tempat semua arus ini bermuara Semesta yang sesungguhnya Di mimpiku dirimu berupa gambaran jelas yang bening Tanpa cela cacat noda menguning Atau begitulah ketika kita berusaha buta dengan logika dan berpaling Tenang saja, Akala Santailah sejenak karena ini hanya sebuah rasa Yang akan kubiarkan mengalir sebebasnya saja Tanpa hal rumit yang biasa Bukan karena pasr...

I

Kata-kata beberapa bulan terakhir terngiang. Menjelma tanya yang selalu kulontarkan kenapa dan dijawab dengan senyum misteri. Aku semakin takut dari hari ke hari. Batinku memohon untuk tidak sekali lagi. Makin ke sini, namamu semakin jelas di ingatan. Senyummu beberapa kali terbayang. Padahal pertemuan kita jarang. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Kemudian aku mengulang memori. Ketika pertemuan itu pertama kali terjadi. Rasanya aku ingin mengucap terima kasih. Pada temanku, temanmu, dan kesediaan waktumu itu. Ingin ku juga mengucap maaf padamu karena sempat melewatkan beberapa hal. Akala, malam ini aku memikirkanmu, lagi. Tiap memikirkanmu, aku merassa aneh sendiri. Aku tidak tahu kenapa. Tapi, aku tidak mau kalau jatuh lagi. Apalagi kalau harus jatuh sendirian lagi. Akala, bagaimana ini?