Langsung ke konten utama

II

Sekali lagi aku mengembara
Melarikan diri dari huru hara
Menuju keasingan tempat tenang ku jumpa
Juga pada rasa yang sudah lama ku lupa
Ke mana kaki membawa langkah berkelana
Meski dalam ramai kau tak dapat ku sua
Meski angan dan ingin bertempur di dalam kening
Tapi dingin kunikmati dengan sangat bersama pelukan hening

Katanya bagiku penyembuhan yang sempurna
Dari entah apa yang ku tidak juga tahu sebabnya
Tentangnya adalah alasan lainnya
Di sana kutemukan andai dan andai yang kuamini dengan segera
Harap-harap yang ku tahu terlalu tinggi dipinta
Terwujudnya ku syukuri meski tidak benar-benar nyata
I(y)a
Tempat semua arus ini bermuara
Semesta yang sesungguhnya
Di mimpiku dirimu berupa gambaran jelas yang bening
Tanpa cela cacat noda menguning
Atau begitulah ketika kita berusaha buta dengan logika dan berpaling

Tenang saja, Akala
Santailah sejenak karena ini hanya sebuah rasa
Yang akan kubiarkan mengalir sebebasnya saja
Tanpa hal rumit yang biasa
Bukan karena pasrah dengan keadaan
Bukan juga karena lelah dan enggan
Bukan
Hanya saja aku tidak tahu mengapa
Aku hanya ingin merasa
Dan
Menikmatinya
Itu saja

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara