Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

IX

Katanya, semua akan baik-baik saja. Tapi, apa selamanya akan terus begitu? Katanya, yakinlah dengan apa yang kamu lakukan. Tapi, bagaimana meyakinkannya jika aku saja ragu? Katanya, aku mungkin butuh bantuan. Tapi, aku ketakutan untuk mencari bantuan. Aku harus apa? Sepertinya aku terbawa suasana akhir-akhir ini karena terlalu lama menahan semua yang membebani. Aku benar-benar lelah hingga setelah kupikir itu selesai, aku langsung membenamkan diri ke dunia fantasi. Maraton dua drama yang awalnya sanksi tapi ternyata aku sukai. Ketika tamat sudah dua versi, aku sedih. Kenapa berakhir secepat ini. Aku ingin menonton ulang lagi. Aku ingin hidup menjadi pemeran utama si karakter fiksi. Aku sudah lama menahan diri sampai lupa berapa lama sudah menguatkan diri. Ternyata, aku tidak sekuat itu. Aku jadi sering menangis akhir-akhir ini. Lebih sering hingga hampir setiap malam hari. Seperti waktu SMA dulu ketika impianku ditertawakan dan tidak diajak bermain oleh yang lain. Akala, kenapa aku cen...

Mawar Merah

Aku pernah mendengar seseorang berkata, "laki-laki akan menyimpan cinta pertamanya di hatinya dan perempuan akan menyimpan cinta pertamanya di pikirannya". Jadi, betulkah? Aku punya kenangan buruk dengan mawar merah. Sejak saat itu, mawar merah terasa menyakitkan untukku. Tapi entah mengapa ketika ada yang memberikan mawar merah padaku aku tetap mengambilnya. Meski itu menyakitkan. Meski itu membuka luka lama. Meski itu mengingatkanku lagi padamu. Pada cinta pertama yang tidak pernah ku dapatkan. Kadang, aku berpikir kenapa aku semenyedihkan ini. Kenapa aku masih mengingat jelas pertemuan pertama kita di sekolah? Kenapa aku masih mengingat jelas pertemuan terakhir kita di sekolah? Kenapa aku masih mengingat jelas hari-hari ketika kita bertemu? Sengaja atau tidak. Aku selalu bisa mengenali itu kamu. Meski dari jauh. Meski hanya wajah samping atau punggungmu. Aku masih bisa mengenalinya. Kenapa cinta setidak adil ini? Berat terus menyukaimu hingga aku melepasmu. Kau tahu, kau o...

VIII

Malam bukan lagi sudah larut Pagi sebentar merenggut Tapi otakku masih tidak ingin menurut Entah apa yang membuat ia tidak bisa menyusutkan pikiran-pikiran kalut Apa yang tertahan? Apa yang ingin dilepaskan? Apa jawaban dari segala tanya yang dilontarkan? Bahkan aku tidak tahu bagaimana selanjutnya semua berjalan. Retorika yang dilontarkan tak lebih hanya kumpulan satire-satire yang menyesakkan Elegi menjelma dari ribuan air mata yang tertahan Tak sanggup dilepaskan Hiperbolis kan? Tapi itu adalah kebenaran Tulisanku terlalu banyak mendongengkan kisah-kisah romantis Padahal statis Sengaja agar kau tidak tahu bahwa bagian ini telah tandus Apa lagi yang bisa kuharapkan jika selalu hanya repetisi pada setiap kasus Ditulis pukul 3 pagi Waktu khusus untuk para seniman membuat karya seni Aku seniman juga, tapi, katamu seniman macam apa aku ini Aku seniman, yang merangkai kata demi kata, bait demi bait, kalimat demi kalimat, menjadi satu paragraf padu yang rumit dan penuh misteri Coba tafsirk...