Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Kepada Sebuah Nama

Kepada sebuah nama yang sudah lama tidak terdengar. Sebuah nama yang sudah lama tidak bertukar sapa. Sebuah nama yang sudah lama tidak bersua. Sebuah nama yang selalu tersebut dalam doa. Dalam kata, senyummu yang kedua terpatri jelas. Meski dalam nyata, kita selalu terlibat pertikaian yang membuatku gemas. Tunggu, apa iya? Sepertinya iya, sekali di ruangan yang sangat kusukai. Pikirku kembali dengan apa yang dicandakan orang-orang dulu, meski kini kita tak tahu. Bukan kita. Lebih tepatnya aku. Sebuah nama yang membuatku bahagia tapi juga tak tenang di waktu bersamaan. Sebuah nama yang pada akhirnya kupasrahkan kepada Sang Pembolak balik hati. Sebuah nama yang tidak kusangka akhirnya menyapa. Obrolan-obrolan tak terduga keluar secara alamiah. Tanpa settingan dan usaha keras mau membahas apa. Aku lega. Entah karena akhirnya kita berkabar atau karena apa yang kutunggu tiba-tiba datang. Kamu memang selalu mengejutkan.

Kalau (bagian 2)

Kalau nanti kita ditakdirkan bersama. Aku ingin tidur di pekarangan rumah dengan rumput tebal seperti karpet bulu empuk sebagai alas, dan langit penuh bintang terbentang tepat di atas. Atau jika kita tidak punya pekarangan, aku harap kita punya rooftop dengan pot-pot bunga matahari dan lavender. Tak lupa juga pohon-pohon yang kamu suka. Nanti, ku taruh bean bag di tengah-tengah untuk kita rebahan bersama di malam hari selepas tuntas sudah semua urusan kerja. Kalau nanti kita ditakdirkan bersama. Kita belajar masak sama-sama, ya! Mungkin kamu lebih jago masak. Tapi aku bisa bikin telur dadar dan mie instan yang enak. Mungkin juga aku bisa masak sayur sop. Tapi aku gak yakin bisa ngungkep ayam dan ngegoreng ikan tanpa gosong. Aku masih harus belajar banyak. Aku harap kamu gak keberatan kalau masakanku agak hambar atau malah keasinan. Kalau nanti kita ditakdirkan bersama. Ada banyak keinginan yang ingin aku wujudkan dengan kamu. Mungkin, kamu juga punya banyak. Aku harap kita bisa mewujud...

Pejalan yang Tidak Tahu Arah

Ada kekhawatiran akhir-akhir ini. Bukan hanya tentang corona yang sedang booming saat ini. Tapi, juga tentang kejelasan keberlanjutan kehidupan yang aku jalani. Kupikir, aku sudah tahu kemana harus melangkah. Kupikir, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tapi ternyata tidak. Kehidupan ini seluas hamparan padang rumput tanpa pembatas. Tanpa kejelasan petunjuk dan tanda utara hanya sebatas sinyal-sinyal yang ditunjukan alam secara implisit. Aku petualang tanpa peta dan tak punya petunjuk arah. Aku pengelana yang berusaha mengikuti sejauh mana kaki mampu melangkah. Aku pejalan yang bahkan tidak tahu jalan. Masih pantaskah aku disebut pengelana jika setiap hari hanya rebahan? Aku bertanya-tanya apa yang salah. Kenapa selama ini belum jua terbalas semua usaha. Apa aku masih harus lebih keras lagi berusaha? Ada ketakutan dalam diri yang sejujurnya menyiksa. Tapi apa lagi yang bisa kuperbuat? Apa?

Kalau

Kalau Nanti aku sudah bisa lagi merasa Ku harap kamu yang pertama Menyapa dengan senyum tulus yang membuat bahagia Membuat hatiku menghangat hingga menjalar ke perut dan menerbangkan kupu-kupu di sana Kalau Nanti aku sudah bisa lagi merasa Ku harap kita bersama Tapi apa iya? Apa rasa ini akan berbalas jika waktunya sudah tiba? Kalau Nanti aku sudah bisa merasa Apa semua masih akan sama? Atau orangnya sudah berbeda? Aku takut Kalau nanti aku sudah bisa merasa Aku kembali terjebak pada cinta searah Kemudian selalu merasa salah Apa aku adalah musibah?