Sungguh aku begitu menyukai langit. Langit biru pagi hari yang cerah dengan gumpalan awan terasa seperti suntikan penyemangat. Arak-arakan itu terlihat sangat meneduhkan. Menghalangi terik mentari yang sering kali tak mengerti kondisi. Aku juga menyukai langit malam penuh bintang. Tapi aku baru sadar, aku tak bisa bersahabat dengan purnama. Purnama selalu begitu menyesakan. Seolah ia menjadi penuh dan utuh karena mengosongkan kebahagian yang sudah tersisa sedikit dalam hidupku. Lalu membiarkanku sendirian dalam kehampaan malam yang dingin. Jadi aku bilang padaNya bahwa aku tidak baik saja-saja. Meski aku tak pernah tahu apa Dia benar-benar mendengar diriku. Namun kusimpulkan bahwa aku kembali ke musim dingin. Aku menyambut kembali musim dingin yang ternyata masih setia bertahta di hidupku. Kini, ia kunamai musim dingin abadi. Kuat sekali tekadnya bahkan tak goyah diguncang musim semi. Meski di pikiranku terus menerus meyakinkan bahwa tidak apa-apa kita kembali ke musim dingin karena m...
Poem and story enthusiast. An amateur author. Trying to productive.