Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

Ketika Purnama Utuh

​Sungguh aku begitu menyukai langit. Langit biru pagi hari yang cerah dengan gumpalan awan terasa seperti suntikan penyemangat. Arak-arakan itu terlihat sangat meneduhkan. Menghalangi terik mentari yang sering kali tak mengerti kondisi. Aku juga menyukai langit malam penuh bintang. Tapi aku baru sadar, aku tak bisa bersahabat dengan purnama. Purnama selalu begitu menyesakan. Seolah ia menjadi penuh dan utuh karena mengosongkan kebahagian yang sudah tersisa sedikit dalam hidupku. Lalu membiarkanku sendirian dalam kehampaan malam yang dingin. Jadi aku bilang padaNya bahwa aku tidak baik saja-saja. Meski aku tak pernah tahu apa Dia benar-benar mendengar diriku. Namun kusimpulkan bahwa aku kembali ke musim dingin. Aku menyambut kembali musim dingin yang ternyata masih setia bertahta di hidupku. Kini, ia kunamai musim dingin abadi. Kuat sekali tekadnya bahkan tak goyah diguncang musim semi. Meski di pikiranku terus menerus meyakinkan bahwa tidak apa-apa kita kembali ke musim dingin karena m...

Orenji

​ Pernah kukira aroma rasa seperti petrikor di savana yang bercampur dengan bunga-bunga liar. Ternyata ada juga yang semanis buah jeruk yang matang sempurna di dahan. Menyegarkan suasana dan menutup pahitnya realita yang waktu itu kurasa. Lepas aku bercerita padanya yang telah dipeluk alam, aku bercerita padamu tentang jalan panjang penuh kelolakan tajam. Kisah yang telah lama kupendam. Ketakutan yang dalam. Katamu menenangkan emosi yang tumpah ruah. Setelahnya aku menjadi lebih lega. Lalu kita bersama-sama membuka kenangan lama. Aku tertawa sampai lupa bahwa sebelumnya aku sangat terluka. Aku sudah tidak terlalu terluka atau berduka. Pun hadirmu menjadi angin sepoi ketika terik mentari membara. Meski itu bukan rasa yang istimewa, tapi pernah begitu melapangkan dada. Untuk segala canda yang pernah ada, sampai jumpa lagi jika waktunya tiba.

Racikan Paling Kejam

​Tuhan, bolehlah aku bertanya bagaimana Kau racik hidupku? Semakin kesini, rasanya semakin pahit. Bolehlah aku mengklaim bahwa diriku adalah racikan paling kejam? Aku bahkan tidak lagi berani berkhayal bagaimana hidup akan terus berjalan, akan jadi apa aku di masa depan, atau akankah aku bisa segera bernafas lega dan menjalani hari-hari dengan langkah yang ringan. Rasanya semua itu jauh dari jangkauan. Tuhan, bagaimana caranya menjadi bahagia secara alami? Rasanya aku hanya menertawakan keadaan yang selalu menjadikanku anak tiri. Belum lagi orang-orang yang selalu berprasangka. Mereka pikir aku semudah yang mereka terka. Jadi mereka bertingkah semena-mena. Tuhan, jika kehidupan ini adalah neraka, apakah nanti aku akan mendapatkan surga? Atau aku tetap akan masuk neraka karena mengambil langkah yang salah akibat tidak sanggup menanggung semua? Tuhan, kenapa Kau ambil hidupku yang tenang? Kenapa Kau beri aku tumpukan tantangan yang tak sulit terurai, mustahil selesai? Aku ingin tidur den...