Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

I'll remember you again and again

Sanskrit : Tvām smārayisyāmi aham punah kutūhālat Alih bahasa : Saya akan mengingat kamu lagi terus menerus. Kita dihari itu pernah punya cerita seru. Tentang temu yang hampir tak berkenan, dan rindu yang belum tumbuh, serta rasa yang belum tercipta. Tak lupa peluk yang hampir kau rapatkan pada tubuhku yang membeku. Naasnya, malu menjadi saksi bisu di depan gedung yang sedang diperbaiki itu. Walau hanya beberapa detik yang dipersilahkan waktu, aku bersyukur tanpa sengaja kita bertemu karena saat itu kuota internetku sudah sakratulmaut. Tanpa maksud apapun. Aku yang saat itu hanya ingin berbagi karena kau temanku. hanya ingin menguatkan sedikit dirimu, dan s emoga kamu bersemangat menjalani hari itu. Hari pertama ditahun barumu. Tanpa maksud apapun. Aku hari itu hanya ingin mengucap selamat secara langsung. Seiring waktu yang berjalan tanpa terasa. Aku bahkan tak sadar sudah selama apa ia bersarang di dada. Di detik di mana akhirnya kuputuskan m...

Aku yang Kini karena Dulu

Dulu, aku pernah menangis dan berteriak tak suka saat ku dengar langkah sepatumu melewati gerbang. Dulu, aku pernah merenggut mimpimu. Membuatmu harus memilih antara cita atau aku. Membuatmu sekali lagi harus menahan diri karenaku. Dulu, aku pernah iri dengan teman-temanku yang selalu didampingi. Aku iri karena kamu terlalu sibuk dengan yang lain dan membiarkanku mandiri. Kini, aku bersyukur punya seseorang sepertimu. Aku bersyukur karena kamu tanpa kusadari telah menjadi sumber semangatku. Kamu yang tanpa kusadar telah menguatkan hati dan diriku. Maaf, aku terlalu banyak menyimpan rahasia darimu. Aku terlalu banyak memendam banyak hal. Bukan karena tak percaya, aku hanya tak ingin menambah bebanmu. Katamu aku harus kuat. Selama aku mampu, tak akan kubagi masalahku. Tak akan kubiarkan kamu kembali terpikir tentangku dan hal-hal sepele itu. Terimakasih karena telah memberi kesempatan pada ayah yang dengan segala usahanya berjuang untukmu. Terimakasih karena telah ...

Hujan malam itu

Hujan malam itu jadi saksi bisu betapa bahagia aku karena melihatmu lagi. Betapa lega walau sesak karena tak sanggup menatap wajahmu. Betapa keras usahaku untuk tetap diam ditempat dan menahan diri berlari kearahmu. Aku rindu. Aku rindu bebas menikmati senyummu seperti hari itu. Aku rindu manik mata hitammu. Aku rindu kamu. Kamu dengan segala tingkahmu yang berhasil membuatku berpaling dari seseorang diujung jalan dan melihatmu. Kamu dan pelukmu yang berhasil menenangkan rasa yang saat itu bergejolak. Kamu dan dirimu yang terlambat ku sadari. Malam itu, aku kembali terbuai pada pesonamu. Kamu menghipnotisku untuk hanya terpaku padamu. Melihat dari kejauhan gerak gerikmu. Memperhatikan punggungmu yang semakin lama semakin jauh. Selalu punggungmu atau wajah sampingmu. "Sampai kapan mau mengangum dari jauh? Jangan jadi secret admirer mulu, Na." Kata temanku yang hanya bisa kujawab dengan senyum. Aku bukan orang yang pandai berekspresi. Aku bukan orang yang punya...

Jiwa

Aku melayang. Entah kemana sanggup ku terbang. Aku telah kehilangan arah. Kehilangan semua yang pernah jadi penopang. Sendiri, kembali terjerumus dalam jurang. Merangkak naik pun tak sanggup kulakukan. Aku harus apa? Jiwa, yang melalang buana menembus bayang-bayang. Memeluk kenang yang semakin jauh tak terpegang. Kembalikan. Aku ingin mereka yang pernah jadi tempat berpulang. Aku ingin mereka yang pernah menggenggam tangan pada beberapa petualangan. Aku harus apa? Langkahku tak mampu lagi mengejar. Gapaiku tak mampu lagi meraih. Akankah aku kembali sendiri? Akankah aku kehilangan peluk itu sekali lagi? Jiwa, jangan sedih. Mendekatlah walau mereka semakin jauh berlari. Bertahanlah walau mereka tidak peduli. Jiwa, kuatlah. Ayo berbahagia untuk hari ini.