Hujan malam itu jadi saksi bisu betapa bahagia aku karena melihatmu lagi. Betapa lega walau sesak karena tak sanggup menatap wajahmu. Betapa keras usahaku untuk tetap diam ditempat dan menahan diri berlari kearahmu.
Aku rindu. Aku rindu bebas menikmati senyummu seperti hari itu. Aku rindu manik mata hitammu. Aku rindu kamu. Kamu dengan segala tingkahmu yang berhasil membuatku berpaling dari seseorang diujung jalan dan melihatmu. Kamu dan pelukmu yang berhasil menenangkan rasa yang saat itu bergejolak. Kamu dan dirimu yang terlambat ku sadari.
Malam itu, aku kembali terbuai pada pesonamu. Kamu menghipnotisku untuk hanya terpaku padamu. Melihat dari kejauhan gerak gerikmu. Memperhatikan punggungmu yang semakin lama semakin jauh. Selalu punggungmu atau wajah sampingmu.
"Sampai kapan mau mengangum dari jauh? Jangan jadi secret admirer mulu, Na." Kata temanku yang hanya bisa kujawab dengan senyum.
Aku bukan orang yang pandai berekspresi. Aku bukan orang yang punya pengharapan lebih perihal cinta. Aku terbiasa menunggu. Menunggu entah sampai kapan aku sanggup melangkah pergi. Aku terbiasa mencintai. Tanpa pernah tahu apa itu akan berbalas.
Terimakasih telah mengangkat beban yang akhir-akhir ini mengganjal. Aku belum tahu apa aku sanggup menghentikan rasa. Aku belum tahu apa aku sanggup membunuh harap. Aku belum tahu apa mampu melihat kamu mengejar dia sedang disini aku menunggumu. Tapi perlu kau tahu. Aku akan tetap menunggumu walau aku tak tahu entah sampai kapan. Sampai rasa ini habis untukmu. Sampai berapa lamapun. Aku akan disini dan terus memperhatikanmu.