Dulu, aku pernah menangis dan berteriak tak suka saat ku dengar langkah sepatumu melewati gerbang.
Dulu, aku pernah merenggut mimpimu. Membuatmu harus memilih antara cita atau aku. Membuatmu sekali lagi harus menahan diri karenaku.
Dulu, aku pernah iri dengan teman-temanku yang selalu didampingi. Aku iri karena kamu terlalu sibuk dengan yang lain dan membiarkanku mandiri.
Kini, aku bersyukur punya seseorang sepertimu. Aku bersyukur karena kamu tanpa kusadari telah menjadi sumber semangatku. Kamu yang tanpa kusadar telah menguatkan hati dan diriku.
Maaf, aku terlalu banyak menyimpan rahasia darimu. Aku terlalu banyak memendam banyak hal. Bukan karena tak percaya, aku hanya tak ingin menambah bebanmu. Katamu aku harus kuat. Selama aku mampu, tak akan kubagi masalahku. Tak akan kubiarkan kamu kembali terpikir tentangku dan hal-hal sepele itu.
Terimakasih karena telah memberi kesempatan pada ayah yang dengan segala usahanya berjuang untukmu. Terimakasih karena telah mengerti aku dan diamku, aku dan marahku, aku dan hpku, serta aku dan segala kesibukanku yang kadang membuatku lupa padamu. Pada rumah yang selalu kurindukan saat kepergianku. Pada rumah yang terkadang ingin kutinggalkan saat jenuh. Sampai nanti saatnya tiba. Walau ku tau ini tak akan sama. Aku akan mencoba melengkapi yang telah aku curi. Mama, selamat hari ibu.
Tertanda,
Anakmu yang hobbynya tidur.