Langsung ke konten utama

Menurutku

Ada kata-kata yang tak akan pernah sempat diucap. Kata-kata yang menjelma untaian kalimat. Bukan karena tak bisa tapi momennya tak pernah tepat atau aku berubah pikiran dengan cepat. Jadi, ku tulis saja ia disini.

Temanku bilang, aku terlalu tinggi menaruh harap. Padahal aku hanya ingin tanyamu terjawab. Entah kepada siapa sebenarnya kau tujukan pertanyaan itu.

Ya, Tuan. Cinta tak selamanya indah. Cinta memang tentang pertemuan, dan lalu apa setelahnya.
Indahnya cinta adalah saat kau tahu penerimaan. Menerima bahwa terkadang cinta tak selalu berpihak padamu. Indah adalah saat hatimu bisa menerima bukan hanya kesenangan, tapi saat ia bisa merangkul kesedihan. Saat ia bisa memeluk kesakitan. Mungkin, aku dan kamu sama. Sering bermain dengan sedih dan sakit, dalam konteks yang sama sekali berbeda pasti. Bukankah itu risikonya saat kamu berani berhadapan dengan cinta? Kamu harus mau merasa namun buta. Karena cinta berarti merasa tanpa pernah melihat apa yang dirasa, setidaknya menurutku seperti itu. Kalau kamu?

Ini aku yang akan menjawab ke hatiku, jika kau tanya mau dibawa kemana cinta. Aku mengutamakan hati dibanding benak ternyata. Disana, ia tak akan kuinjak-injak. Namun kunikmati debarannya. Kuresapi hangatnya. Kugenggam resahnya saat ia menuntut temu. Memanjakannya dengan kata sabar. Memeliharanya entah ia akan terbalas atau tidak. Tapi, boleh juga tawaranmu. Sepertinya hutan akan jadi tempat yang seru. Bukan untuk ditinggalkan. Tapi untuk ditanam. Disiram sepenuh hati. Dipupuk penuh kasih. Agar ia bertunas dan tumbuh menjadi pohon yang abadi. Agar ia berbuah kebahagiaan yang lain. Atau sekalipun ia tak berbuah, biar ia tumbuh untuk siapapun itu. Karena semua cinta tak pernah memiliki akhir yang sama. Akhirnya hanya perlu kita maknai. Melalui pandangan masing-masing. Entah ia harus kau syukuri atau kau caci maki.

Cinta itu indah. Sungguh. Setidaknya cinta pernah membuatmu terbang, walau tak jarang kenyataan malah menjatuhkannya.

Jadi, boleh aku tahu jawaban asli pertanyaanmu? Kalau kamu memang punya jawaban sendiri. Tidak selamanya setiap tanya punya jawab, kan. Aku saja yang kurang kerjaan saat ini hehe.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara