Malam berlalu cepat untukku hari itu. Tahu-tahu matahari telah mengambil alih semesta. Mengusir kedudukan purnama yang sedang indah-indahnya. Cerita dimulai di sini. Ketika aku sedang bingung dan ingin mencari alasan untuk bertemu dia. Ternyata rindu seberbahaya ini. Rinduku menuntut. Memaksa diri untuk bertemu dengannya. Aku memutar otak dan menekan malu dalam hati demi memuaskan si rindu. Ku ambil ponsel lalu mengetikkan sebuah pesan.
"Besok bisa ketemu? Gue mau balikin pulpen lu nih hehehe." Send.
Lama menunggu sambil berpikir keras. Masa cuma balikin pulpen? Mungkin dia juga udah lupa kali sama pulpennya. Terus ngapain lagi ya? Tiba-tiba ide itu muncul. Entah nantinya dia suka atau tidak. Ditengah kebimbangan ponselku berbunyi.
"Bisa sih. Tapi kelas gue padet. Disela-sela kelas kali ya."
"Bilang aja kelasnya dimana. Nanti gue samperin."
"Oke."
Malam itu aku sukses dibuat tidak bisa tidur dengan khayalan-khayalan tentang pertemuan beberapa detik besok. Malam itu aku merancang kata. Sejujurnya aku ingin mengucap cinta. Entah sejak kapan. Sejujurnya ada rasa sayang yang sangat besar dan rasa kepemilikan diriku terhadap kamu. Bagaimana denganmu? Apakah kali ini perasaanku berbalas? Atau kembali searah? Dan aku kembali menggantung misteri pada langit malam.
Pagi itu semua rasa bercampur tak karuan. Terlalu senang hingga berdebar. Terlalu gugup hingga gemetar. Terlalu banyak yang ingin diutarakan hingga lidah ini kelu. Pagi itu kulewati semuanya dengan buram karena fokusku hanya tertuju pada satu titik, bertemu kamu. Siang tiba masih dengan menunggu pesanmu. Makanan di atas meja tampak tidak menggugah selera karena kepastian itu belum datang. Aku ragu akhirnya. Selalu begitu. Apa kamu lupa? Sedih setengah kecewa aku menghabiskan makanan yang harusnya enak ini tapi malah terasa hambar.
Setelah hampir menyerah dan menguatkan diri dengan mencoba berpikir positif, aku berusaha menghabiskan sisa hari itu. Tapi pesan itu akhirnya hadir. Sebuah pesan yang sukses mencerahkan hari yang sudah kuawali dengan kesuraman. Pesan yang membuat matahari di hatiku bersinar. Pesan yang berhasil membuat debar kembali hadir di dada.
Aku melirik jam tanganku. 5 menit lagi. Aku mengambil pulpennya dan hadiah yang sudah kupersiapkan tadi pagi lalu berlari menuju tempat pertemuan yang sebenarnya tidak jauh dari kelasku sekarang. Menunggu di depan tangga sambil mondar-mandir. Gugup, takut, bersemangat. Semua kembali bercampur.
"Gue udah di bawah ya hehe." Send.
Dua temannya yang kebetulan ku kenal lewat. Mereka menyapaku dan bertanya sedang apa. Aku hanya bisa tersenyum dan menjawab "Nunggu orang." karena ketidakmungkinan menyebut namamu. Bahkan aku merahasiakan kedekatan kita karena aku tak enak denganmu.
"Hei." Sapamu dari lantai atas dan berjalan menuruni tangga.
"Eh hai." Balasku sambil tersenyum kaku kemudian mengeluarkan pulpen dan coklat dari saku.
"Ini pulpennya. Makasih ya." Aku mengulurkan pulpen yang kutaruh dibawah coklat.
"Oke." Katanya mengambil hanya pulpennya dan hendak berbalik tapi aku belum melepaskan pegangan ku pada pulpennya.
"Eh. Ini buat kamu juga." Kataku. Dia kembali berbalik. Menatapku lama. Bingung mungkin. Aku juga menatapnya lama. 1 detik? 5 detik? 10 detik? Ah aku tak tau. Hanya saja perasaanku mengatakan tatapan kami lama.
"Ini buat kamu juga kok." Kataku akhirnya.
"Oh. Eh. Oke. Makasih ya." Katanya.
"Hehe iya sama-sama." Kemudian ia berbalik kembali akhirnya. Naik ke atas dan disambut dengan kehebohan dua temannya yang tadi menyapaku dan ternyata menjadi saksi tersembunyi di balik tangga. Betapa malunya aku dan dia. Aku bergegas sambil menunduk. Samar-samar ku dengar teriakan temannya.
"Cie dikasih coklat. Itu dia suka sama lu bego. Kejar gih. Lu suka juga ga km sama dia."
"Apaan sih." Katanya.
"Heh itu ada orang suka sama lu. Lu gimana? Bales perasaannya. Bilang gimana perasaan lu ke dia."
"Sumpah nanti lu nyesel kalo gak bilang sekarang. Kejar dia cepetan."
Aku berlari. Entah apa yang membuatku refleks berlari menjauh. Tidak sanggup melihatnya. Tidak sanggup mendengar reaksinya atas perbuatanku tadi. Tidak mampu menerima kenyataan bahwa ini hanya cinta searah. Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak mampu. Tapi entah mengapa ada kelegaan dalam hatiku. Seperti ada satu benda berat menimpaku dan akhirnya itu terangkat. Aku masih berlari. Bodohnya berlari melalui jalan memutar yang malah membuat jarak semakin jauh ke kelasku. Ku dengar suara-suara langkah dibelakangku. Aku tak peduli. Aku tetap berlari hingga sampai di depan kelas dan tiba-tiba pintu kelas terbuka. Teman-temanku menghambur keluar. Kelas sudah selesai. Aku terlalu lama izin rupanya.
Seseorang menarik tanganku. Mencegahku masuk kelas diikuti dengan tatapan bingung teman-temanku. Dia membalik badanku. Meski badanku sudah menghadap dia, aku masih menunduk. Entah kenapa. Disentuhnya daguku dan diarahkan kepalaku padanya. Aku melihatnya. Tepat diwajahnya.
"Apakah seorang wakil ketua satu himpunan mahasiswa sanggup dan siap mengambil resiko jika ia bersama dengan seorang ketua angkatan?" Satu pertanyaan terlontar dari mulutnya. Satu pertanyaan yang jujur saja membuatku bingung.
"Apa kamu siap apapun resikonya kalo nanti kamu sama aku." Kali ini dia mengucapkan segamblang itu. Aku menatap menyelidik pada manik mata hitamnya. Seriuskah ia? Atau ini hanya candaan. Aku bingung. Aku ragu ini hanya jebakan tapi disisi lain aku senang karena perasaan ini terbalas.
"Siap-siap aja. Karena aku sayang kamu pasti ada resiko-resiko yang harus aku tanggung. Bahkan sejak awal aku sadar kalo aku sayang kamu." Ucapku kemudian menunduk lagi. Huh kenapa didepannya aku terus-terusan menunduk.
"Terimakasih." Katanya kemudian memelukku.
Hari itu kupu-kupu berterbangan dari perutku. Hari itu semua berwarna merah muda dalam pandanganku. Jadi seperti ini rasanya.
Setelahnya kami kembali ke kelas masing-masing. Hanya saja setelah dia pergi salah satu dari dua temannya yang tadi menyapa ku dan mengikutinya berlari mengejarku mendekat. Dia menatapku dan berbicara dengan raut yang serius, "Gue tau lu bisa jaga dia. Jangan sakitin ketua angkatan gue ya. Karena mungkin kalo dia kenapa-kenapa lu bisa kena sama kita satu angkatan bahkan satu jurusan. Selamat buat kalian. Semoga langgeng". Iya, aku siap menerima resiko diancam seperti ini bahkan ketika baru beberapa menit status kita menjadi jelas.
Besoknya aku tidak melihat dia dimanapun. Bahkan mungkin aku sudah berkeliling fakultas seharian dan tak ku temukan dia. Orang ini bahkan tidak membalas pesanku. Kemana sih dia. Sambil merenggut kesal aku melangkahkan kakiku menuju lapangan basket. Terdengar ramai suara orang.
"Ih cepetan. Ngomong begitu aja gak bisa."
"Malu gue diliatin kalian. Lagian gue kan maunya berdua aja sama dia baru ngomong."
"Yailah sama kita aja malu gimana sama dia."
"Beda ya."
"Udah elah cepetan."
"Lagian kemaren gue udah ngomong kan perihal gue dan dia."
"Itu baru ngomong biasa. Lu tuh belum nembak. Gimana sih. Cepetan latihan."
"Ih."
Aku kenal suara-suara itu. Terutama suaranya yang kesal. Entah mereka sedang apa. Aku melihat sekilas lalu hendak pergi tapi pandanganku bertemu dengan salah satu mata temannya yang langsung berkata, "Eh dia ada disini". Hebohlah seisi lapangan itu dan aku langsung berbalik. Bersembunyi dibalik dinding dekat situ.
"Dimanapun kamu kalo kamu disekitar sini. Aku gak bermaksud ngusir tapi kalo kamu dengar duluan itu berarti aku gak jadi kasih surprise buat kamu." Teriaknya yang sukses membuatku tersenyum bahkan tertawa geli. Aku mengetikkan sebuah pesan untukknya dan kemudian pergi.
Tanpa tahu pergi kemana. Terakhir yang kusadari aku berjalan menuju satu gedung di fakultasku yang terang sekali. Dengan perasaan bahagia yang melingkupi diri dan hatiku. Dengan senyum yang masih terkembang di bibirku. Aku terus berjalan tanpa memperhatikan langkah. Kemudian aku membuka mata dan terheran karena berada dikamarku. Aku merenung. Membayang kejadian-kejadian yang ternyata hanya sebatas bunga tidurku. Namun, itu hanya mimpi ternyata. Jika mimpi saja semembahagiakan itu, bagaimana jika menjadi nyata? Apa aku harus merealisasikan mimpi itu? Tapi aku dikenyataan tak akan pernah seberani aku dalam mimpi. Walau begitu, perasaan aku dikenyataan sama dengan aku dalam mimpi. Apakah perasaanmu padaku dikenyataan juga sama dengan perasaanmu dimimpiku?