Mereka bilang,
sungai, waduk, danau, dan sumur-sumur itu tak akan bisa menampung lagi.
Debit air semakin lama akan naik dan meluap, kemudian meluber.
Menelan perlahan hingga tenggelam.
Tapi itu tak pernah terjadi.
Tanah ini ajaib.
Ia meresap semua tanpa pernah membiarkannya tumpah ke mana-mana.
Ia seperti pasir hisab.
Menelan segera agar genang tidak menjalar ke segala arah.
Diam pada kubangan-kubangan yang tersedia.
Tidak ada air bah meskipun hujan tidak pernah berhenti di sini.
Ia terus mengalir mengikuti lekukan-lekukan pada wajah yang berbentuk daun sirih.
Membasahi pori-pori hingga masuk ke mulut dan terkecap rasa asin.
Disertai sesunggukan yang bagai gemuruh dan sempretan ingus yang sesekali seperti petir menyambar di gurun pasir.
"Memang kau tahu bagaimana petir menyambar di gurun pasir?", tanyanya.
"Tidak.", jawabku.
"Tapi aku baca bahwa ia akan menghasilkan fulgurit.", lanjutku.
Ini harusnya menjadi prosa.
Kenapa malah jadi sebuah cerita?
Masa bodoh, lah.
Aku lanjut saja.
Hujan tidak pernah berhenti di sini.
Ia mengalir selaras dengan rasa sakit yang menjalar di bumi.
Semakin sakit ia terasa, semakin deras hujan menerpa, semakin besar petir menggelegar dan guruh bergema.
Semakin pudar ia terasa, ia memelan menjadi rintik-rintik yang meskipun kecil tapi akan menusukmu perlahan.
Memelukmu dengan dingin tanpa kau sadari.
Tahu-tahu, kau sudah mati rasa dengan tubuh membiru dan beku.
Kesakitan yang mematikan.
Hujan tak pernah berhenti di sini.
Untuk apa kamu masih menunggu yang tak pasti?
Sudah ku bilang untuk menerobosnya dan lari.
Jangan menepi.
Payung dan poncomu itu tidak akan banyak membantu di sini.
Hujan tetap akan menciprati.
Kenapa masih di sini?