Langsung ke konten utama

Hujan Tidak Berhenti di Sini

Mereka bilang,
sungai, waduk, danau, dan sumur-sumur itu tak akan bisa menampung lagi.
Debit air semakin lama akan naik dan meluap, kemudian meluber.
Menelan perlahan hingga tenggelam.
Tapi itu tak pernah terjadi.

Tanah ini ajaib.
Ia meresap semua tanpa pernah membiarkannya tumpah ke mana-mana.
Ia seperti pasir hisab.
Menelan segera agar genang tidak menjalar ke segala arah.
Diam pada kubangan-kubangan yang tersedia.

Tidak ada air bah meskipun hujan tidak pernah berhenti di sini.
Ia terus mengalir mengikuti lekukan-lekukan pada wajah yang berbentuk daun sirih.
Membasahi pori-pori hingga masuk ke mulut dan terkecap rasa asin.
Disertai sesunggukan yang bagai gemuruh dan sempretan ingus yang  sesekali seperti petir menyambar di gurun pasir.

"Memang kau tahu bagaimana petir menyambar di gurun pasir?", tanyanya.

"Tidak.", jawabku.

"Tapi aku baca bahwa ia akan menghasilkan fulgurit.", lanjutku.

Ini harusnya menjadi prosa.
Kenapa malah jadi sebuah cerita?
Masa bodoh, lah.
Aku lanjut saja.

Hujan tidak pernah berhenti di sini.
Ia mengalir selaras dengan rasa sakit yang menjalar di bumi.
Semakin sakit ia terasa, semakin deras hujan menerpa, semakin besar petir menggelegar dan guruh bergema.
Semakin pudar ia terasa, ia memelan menjadi rintik-rintik yang meskipun kecil tapi akan menusukmu perlahan.
Memelukmu dengan dingin tanpa kau sadari.
Tahu-tahu, kau sudah mati rasa dengan tubuh membiru dan beku.
Kesakitan yang mematikan.

Hujan tak pernah berhenti di sini.
Untuk apa kamu masih menunggu yang tak pasti?
Sudah ku bilang untuk menerobosnya dan lari.
Jangan menepi.
Payung dan poncomu itu tidak akan banyak membantu di sini.
Hujan tetap akan menciprati.
Kenapa masih di sini?

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara