Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Desir di Daun Bambu

Aku merindukannya. Ini hari ke-170 sejak dia dan aku terakhir bertemu. Sejujurnya, aku tidak lagi yakin apa kami akan bertemu kembali. Aku sudah kehilangan harapan. Aku tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan. Jika, andai, waktu mau memperkenankan. Tolong, aku ingin dia melihatku sekali lagi. Aku ingin bersamanya sekali lagi. °°° Aku mendengar kabar hari ini yang membuatku tertegun. Ketika mereka mengajakku pergi, aku tak lagi bisa menahan hasrat untuk tidak melakukan. Entah apa yang kupikirkan. Aku hanya ingin memastikan. Hari ini, aku tiba di depan sebuah bangunan berwarna putih. Tidak kusangka aku akan menemuinya di sini, setelah pertemuan kami yang terakhir. Aku berjalan masuk dan bertanya di mana aku bisa menemuinya. Semakin masuk ke dalam, aroma khas tempat ini semakin terasa. Jantungku seperti dipompa dengan cepat. Berdebar tidak karuan mengapa dan aku tidak ingin mendebat. Kakiku melangkah melalui pintu di depanku saat ini, lalu kulihat dia. Kenapa rasanya ini menyakitkan? Su...

Racun Ulat Bulu

Ia Indah dan memesona Tapi siapa sangka Kata-katanya beracun hingga menimbulkan nanah Getah pohon melekat erat pada raga Tubuhku bentol dan berdarah-darah Di malam ketika impulsif si jiwa serakah Si racun ulat bulu menjalar ke seluruh arah Gatal di mana-mana Obat-obatan itu tidak berguna Aku tahu bukan maksudmu berkata Tapi, itu terlalu menyakitkan untuk diterima

Wabah

Dedaunan mana yang kau harap akan gugur dan bunga-bunga mana yang kamu harap akan mekar? Melintasi waktu ditengah gempuran wabah untuk sebagian orang tidak mudah. Terutama ketika harapmu sedang merekah dan awalan baru saja memerah. Ketika perjalanan yang sudah lama kau damba akan kau mulai dengan segera. Tapi, hidup memang selalu penuh kejutan untuk membuatmu berpikir maumu apa. Ketika wabah ini merajalela. Menyentuh semua lapisan kalangan tanpa padang tua dan muda, miskin dan kaya, ras atau suku apa. Kuharap mimpimu masih bisa membara. Jangan putus asa. Kamu tidak pernah benar-benar sendirian dan ini akan berakhir dengan segera, semoga. Ketika wabah ini mereda. Kuharap kamu masih mempunyai semangat juang yang menyala-nyala. Tanda bahwa kehidupan masih bisa kau taklukan meski sedikit terlambat. Tak apa. Kita masih bisa mengejar apa yang tertinggal. Kita masih bisa menuntaskan apa yang tertunda. Kita masih bisa berusaha. Baiklah. Maaf karena terus menyalahkan wabah. Aku hanya ingin meng...

Buat Akala (bagian kesekian)

Aku merindukan seseorang favoritku yang aku tidak tahu mengapa namamu muncul dari dalam keningku. Seperti Zeus yang melahirkan Athena melalui pikirannya. Seperti itulah tulisanku saat ini. Tidak kusangka, aku kembali menulis tentangmu. Melanjutkan "Buat Akala" yang harusnya sudah lama ku tutup. Kenapa aku jadi memikirkanmu lagi? Apa karena yang waktu itu? Ah, sepertinya obrolan bersamamu menjadi candu untukku. Ini pagi kesekian dengan dingin yang sebentar lagi menguap. Perasaanku bilang kemungkinan hari ini akan panas. Aku senang dengan cerahnya cuaca akhir-akhir ini. Langit biru terlihat bersih dengan awan-awan putih yang berbentuk seperti permen kapas. Aku ingin berterima kasih kepada pohon bambu yang mempercantik pemandanganku meski aku hanya di rumah. Pohon bambu, langit biru, awan putih, dan angin di siang hari yang terik akhir-akhir ini benar-benar mengingatkanku padamu. Aku memainkan gelembung sabun beberapa hari terakhir dan sangat senang ketika gelembung-gelembung it...