Aku merindukannya.
Ini hari ke-170 sejak dia dan aku terakhir bertemu. Sejujurnya, aku tidak lagi yakin apa kami akan bertemu kembali. Aku sudah kehilangan harapan. Aku tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan. Jika, andai, waktu mau memperkenankan. Tolong, aku ingin dia melihatku sekali lagi. Aku ingin bersamanya sekali lagi.
°°°
Aku mendengar kabar hari ini yang membuatku tertegun. Ketika mereka mengajakku pergi, aku tak lagi bisa menahan hasrat untuk tidak melakukan. Entah apa yang kupikirkan. Aku hanya ingin memastikan.
Hari ini, aku tiba di depan sebuah bangunan berwarna putih. Tidak kusangka aku akan menemuinya di sini, setelah pertemuan kami yang terakhir. Aku berjalan masuk dan bertanya di mana aku bisa menemuinya. Semakin masuk ke dalam, aroma khas tempat ini semakin terasa. Jantungku seperti dipompa dengan cepat. Berdebar tidak karuan mengapa dan aku tidak ingin mendebat. Kakiku melangkah melalui pintu di depanku saat ini, lalu kulihat dia. Kenapa rasanya ini menyakitkan?
Suara elektrokardiograf memenuhi ruangan ditemani bau obat. Ia terbaring pada ranjang ditengah ruang. Aku mendekat. Melihat dirinya yang diselimuti lalu lalang kabel dan selang. Ini bukan pertemuan yang aku inginkan.
°°°
Ia datang hari ini. Aku menjerit tanpa bisa ia dengar. Aku menangis. Seluruh rindu yang terkumpul saat ini merangsek keluar. Aku senang dia hadir. Aku merindukannya. Aku ingin memeluknya.
°°°
Di pertemuanku dan dia yang terakhir, aku bisa menikmati senyumnya. Tapi, kini, bahkan aku tidak lagi tahu kapan bisa kembali menikmati senyum itu. Tidak kusangka aku masih tidak bisa melepas dirinya. Ku kira, jarak selama ini kucipta bisa membuat kami berdua bahagia. Ternyata malah menyiksa. Ternyata kami menderita. Setidaknya, jika ia tidak, aku yang menderita.
Detak jantungnya pada mesin elektrokardiograf itu setidaknya membuatku banyak berdoa dan berharap.
"Ra, bangun". Lirihku.
°°°
Re, aku juga ingin terbangun. Aku ingin menatap lekat matamu. Aku ingin memelukmu sekarang juga. Aku ingin.
°°°
Ra,
Selama Jantungmu masih berdetak,
aku akan terus berharap. Pun ketika kamu bersembunyi di antara petak-petak. Harap itu masih menetap. Mengudara menuju jiwamu yang mengembara ditemani bintang Utara dan kawanan rusa yang membelah hutan belantara. Bersemayam di langit malam, sang penjaga alam.
"Ra, bangun". Pintaku sekali lagi.
°°°
Re, aku akan mengingatmu hari ini. Aku akan mengingatmu esok. Aku akan mengingatmu nanti. Wajah yang selalu kurindu.
Re, jika nanti aku terlahir kembali. Aku harap kita bertemu lagi. Jika nanti kita bertemu, aku harap kita bisa bersama lagi. Re, aku ingin menjadi takdirmu lagi. Aku ingin denganmu lagi di kehidupan selanjutnya. Saat ini menyadarkanku bahwa kita telah bersama, sejak kehidupan sebelumnya.
Re, maaf. Aku terlalu dan selalu mencintaimu.
°°°
Tenang. Sunyi sekali di sini. Apa kamu tidak kesepian? Kamu bilang tidak suka sendirian. Tapi, sekarang kamu sendirian dan meninggalkanku yang juga sendirian.
Ra, sudah kubilang aku tidak akan kehilangan harap selama jantungmu masih berdetak bukan? Sekarang, aku harus apa?
°°°
Ra, aku gak lupa sama kamu.
°°°
Ra, bagaimana langit di sana? Apakah cerah? Apakah indah? Kamu selalu suka memandang langit. Ku harap langit di sana cerah dan kamu betah. Jika kamu bisa memberikan tanda kamu baik-baik saja, tolong kirimkan.