Di tengah kota yang sedikit asri meski ramai dengan huru hara, aku menyusur jalan panjang yang bermuara pada sebuah tempat asing yang tidak benar-benar asing. Setiap sudut di tempat itu dipenuhi lalu lalang orang. Setiap sisi di tempat itu memanggil-manggil aku untuk mendekat dengan kerlap kerlip pesona yang menggoda seakan berteriak, "Ayo, ke sini!".
Aku menyisir pandang yang kian lama mengabur seiring dengan sahutan riuh yang juga menyatu sampai tiba di titik. Langkahku mengayun ringan menggapai punggung seseorang yang langsung menoleh dengan senyum lebar menenangkan. Tatapannya seolah-olah mengatakan, " kamu aman sekarang." dan hangatnya menggetarkan kawanan kupu-kupu dalam perutku yang seketika membumbung tinggi. Terbang dengan sayap cantiknya ke langit biru di kejauhan.
Aku mengambil tangan yang menengadah dengan meyakinkan sambil tersenyum riang dan girang. Kami berjalan beriringan menuju seberkas cahaya yang bersinar paling terang sambil membayang dan merancang adegan yang masih akan terus berjalan. Ketika aku terlelap. Aku sadar. Skenario sebelum tidurku selalu mendongengkan hal-hal menyenangkan sampai mimpiku gagal menghasilkan bunga-bunga yang bermekaran. Tapi, apa jaminannya jika aku mendongengkan lara yang terus menerus menikam?