Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Kicauan Tentang Orang-Orang

Malam meninggi tapi riuh di kepalaku semakin menjadi-jadi. Aku sedang menyusun skenario sebelum tidur namun itu terhenti. Pikiranku akan diri sendiri teralih. Selalu kicauan tentang orang-orang muncul sendiri. Entah apa pemicunya, tetapi ia menjadi tidak terkendali. Ada banyak hal yang ingin ku bagi pada orang-orang. Jika bisa, semua ingin kuberi. Bahkan di tengah diriku yang merangkak dan meraba-raba mencari penopang untuk berdiri, aku masih tidak bisa berhenti memikirkan orang-orang. Mereka yang mungkin bisa kubagi sesuatu. Pikiran mulia itu menggerogoti jiwaku. Menyeretku pada titik terdalam jurang ketidakmampuan dan ketidakberdayaan yang susah payah kupanjat hingga sekarang. Nyatanya aku memang tidak pernah bisa memberikan apapun pada orang-orang. Tidak satu hal pun. Oleh karena itu, wahai diriku yang selalu merasa sepi, tolong tahu diri.

Sendiri

Semakin larut, aku semakin membiarkan kesendirian itu tumbuh lebat. Kusadari itu lambat-lambat. Aku tidak suka dengan segala serat yang saling menjalin sampai terhubung dengan erat dan memilih berkelebat. Itu terlihat jika kamu mengamatinya lekat-lekat.

Habis

Aku selalu menulis jika ada yang tidak baik saja-saja. Entah itu hatiku atau jiwaku. Aku selalu menulis segala kekhawatiran yang terbersit dalam kepalaku. Namun kali ini lain. Aku sungguh ingin menuliskan apa yang aku rasanya, tetapi bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang kurasakan. Aku ingin menuliskan segala sesak yang mencekik, tetapi aku tidak tahu mengapa itu terjadi. Hal yang kurasakan tidak lagi bisa kutuliskan. Aku tidak lagi punya kata yang mampu mendeskripsikannya. Aku sedih, aku cemas, aku takut, aku khawatir. Aku merasa tidak lagi punya sesuatu yang membuatku bisa berharap lebih. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah jatah keberuntunganku sudah habis sampai disini?

Nasihat untuk Jiwa yang Terluka

Redalah semua yang berkecamuk dalam kepala. Tenang-tenanglah wahai hati yang menahan luka. Lekas pulihlah jiwa yang diselimuti duka. Berlinanglah air mata jika itu membuat lega. Percayalah. Sungguh semua akan kembali seperti sedia kala. Ketika tiada lagi yang bisa menghadang dari segala. Ketika setiap hari bersinar dengan cerah. Biar yang layu terganti pada waktunya. Biar si kuncup pelan-pelan merekah. Sampai tenang yang damai datang pada saatnya. Tolong jangan terlalu tergesa-gesa.

Kita di Hari Itu

Malam berlalu cepat untukku hari itu. Tahu-tahu matahari telah mengambil alih semesta. Mengusir kedudukan purnama yang sedang indah-indahnya. Cerita dimulai di sini. Ketika aku sedang bingung dan ingin mencari alasan untuk bertemu dia. Ternyata rindu seberbahaya ini. Rinduku menuntut. Memaksa diri untuk bertemu dengannya. Aku memutar otak dan menekan malu dalam hati demi memuaskan si rindu. Ku ambil ponsel lalu mengetikkan sebuah pesan. "Besok bisa ketemu? Gue mau balikin pulpen lu nih hehehe." Send . Lama menunggu sambil berpikir keras. Masa cuma balikin pulpen? Mungkin dia juga udah lupa kali sama pulpennya. Terus ngapain lagi ya? Tiba-tiba ide itu muncul. Entah nantinya dia suka atau tidak. Ditengah kebimbangan ponselku berbunyi. "Bisa sih. Tapi kelas gue padet. Disela-sela kelas kali ya." "Bilang aja kelasnya dimana. Nanti gue samperin." "Oke." Malam itu aku sukses dibuat tidak bisa tidur dengan khayalan-khayalan tent...