Malam meninggi tapi riuh di kepalaku semakin menjadi-jadi. Aku sedang menyusun skenario sebelum tidur namun itu terhenti. Pikiranku akan diri sendiri teralih. Selalu kicauan tentang orang-orang muncul sendiri. Entah apa pemicunya, tetapi ia menjadi tidak terkendali. Ada banyak hal yang ingin ku bagi pada orang-orang. Jika bisa, semua ingin kuberi. Bahkan di tengah diriku yang merangkak dan meraba-raba mencari penopang untuk berdiri, aku masih tidak bisa berhenti memikirkan orang-orang. Mereka yang mungkin bisa kubagi sesuatu. Pikiran mulia itu menggerogoti jiwaku. Menyeretku pada titik terdalam jurang ketidakmampuan dan ketidakberdayaan yang susah payah kupanjat hingga sekarang. Nyatanya aku memang tidak pernah bisa memberikan apapun pada orang-orang. Tidak satu hal pun. Oleh karena itu, wahai diriku yang selalu merasa sepi, tolong tahu diri.
Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.