Aku selalu menulis jika ada yang tidak baik saja-saja. Entah itu hatiku atau jiwaku. Aku selalu menulis segala kekhawatiran yang terbersit dalam kepalaku. Namun kali ini lain. Aku sungguh ingin menuliskan apa yang aku rasanya, tetapi bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang kurasakan. Aku ingin menuliskan segala sesak yang mencekik, tetapi aku tidak tahu mengapa itu terjadi. Hal yang kurasakan tidak lagi bisa kutuliskan. Aku tidak lagi punya kata yang mampu mendeskripsikannya. Aku sedih, aku cemas, aku takut, aku khawatir. Aku merasa tidak lagi punya sesuatu yang membuatku bisa berharap lebih. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah jatah keberuntunganku sudah habis sampai disini?
Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.