Langsung ke konten utama

Di Puncak Amarah

Rasa ingin mengumpat dalam kepalaku naik berkali lipat. Di otakku, sudah terkumpul segala kata-kata paling kasar dan paling kotor yang dapat aku ucap. Ingin rasanya meneriakkan semua kata-kata kotor itu sambil berdiri di atas ayunan yang bergerak maju mundur, turun naik, ke depan ke belakang. Meski keinginan ini menggebu-gebu, nyatanya aku hanya diam menutup rapat mulutku di tengah ruang kecil yang menyesakkan. Lama berdiam diri sambil sesekali berputar ke kanan ke kiri, ke sana ke mari tanpa tujuan. Terjebak dalam belenggu yang sungguh memuakkan. "Aku tidak tahan", batinku berteriak. "Aku sungguh tidak tahan", ia mengamuk semakin dahsyat. Ingin kulempar saja laptop di pangkuanku. Ingin kuubrak-abrik seisi ruang. Ingin kujungkir balikan meja dan kursi. Ingin ku rusak segala yang mampu terjangkau kedua tanganku. Namun satu tanganku sudah lelah bergerak. Lemas, letoi, nyeri. Jari-jari tanganku juga lelah terus menerus menari di atas keyboard laptopku yang licin. Tapi, jika ia berhenti menari, apa jadinya aku. Jika ia berhenti merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, aku mungkin tidak akan lagi mampu bertahan. Hilang eksistensi dan sumber mata pencaharianku. Hilang kemampuanku karena yang kubisa hanya itu. "Tidak, aku tidak bisa berhenti. Setidaknya bukan hari ini.", batinku kembali bersuara.

Jika bisa kuputar ulang waktu, mengambil kembali semua yang pernah terenggut dulu, apa semua akan baik-baik saja? Apakah sekarang akan lebih menyenangkan atau justru malah semakin menyesakkan? Jika bisa kuhentikan waktu, momen yang mana yang akan aku pilih? Kapan aku pernah merasakan kebahagiaan yang sangat? Aku bahkan lupa waktu-waktu ketika aku merasa bahagia. Aku juga lupa waktu-waktu ketika aku merasa sedih. Aku hanya bisa mengingat waktu-waktu ketika aku merasa marah. Aku marah. Sangat marah. Dulu, kini, dan nanti akan selalu diliputi amarah yang tak bisa berhenti. Tapi, pada siapa aku marah? Kenapa aku marah? Jika tidak tahu alasannya, masih pantaskah aku marah? Ah, kurasa bukan begitu cara mainnya. Sama seperti emosi lainnya, jika aku bisa mencintai tanpa alasan, aku juga bisa marah tanpa alasan. Hanya marah. Hanya merasa sangat marah. Semua hal memicu kemarahan. Aku akan marah-marah hari ini.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...