Rasa ingin mengumpat dalam kepalaku naik berkali lipat. Di otakku, sudah terkumpul segala kata-kata paling kasar dan paling kotor yang dapat aku ucap. Ingin rasanya meneriakkan semua kata-kata kotor itu sambil berdiri di atas ayunan yang bergerak maju mundur, turun naik, ke depan ke belakang. Meski keinginan ini menggebu-gebu, nyatanya aku hanya diam menutup rapat mulutku di tengah ruang kecil yang menyesakkan. Lama berdiam diri sambil sesekali berputar ke kanan ke kiri, ke sana ke mari tanpa tujuan. Terjebak dalam belenggu yang sungguh memuakkan. "Aku tidak tahan", batinku berteriak. "Aku sungguh tidak tahan", ia mengamuk semakin dahsyat. Ingin kulempar saja laptop di pangkuanku. Ingin kuubrak-abrik seisi ruang. Ingin kujungkir balikan meja dan kursi. Ingin ku rusak segala yang mampu terjangkau kedua tanganku. Namun satu tanganku sudah lelah bergerak. Lemas, letoi, nyeri. Jari-jari tanganku juga lelah terus menerus menari di atas keyboard laptopku yang licin. Tapi, jika ia berhenti menari, apa jadinya aku. Jika ia berhenti merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, aku mungkin tidak akan lagi mampu bertahan. Hilang eksistensi dan sumber mata pencaharianku. Hilang kemampuanku karena yang kubisa hanya itu. "Tidak, aku tidak bisa berhenti. Setidaknya bukan hari ini.", batinku kembali bersuara.
Jika bisa kuputar ulang waktu, mengambil kembali semua yang pernah terenggut dulu, apa semua akan baik-baik saja? Apakah sekarang akan lebih menyenangkan atau justru malah semakin menyesakkan? Jika bisa kuhentikan waktu, momen yang mana yang akan aku pilih? Kapan aku pernah merasakan kebahagiaan yang sangat? Aku bahkan lupa waktu-waktu ketika aku merasa bahagia. Aku juga lupa waktu-waktu ketika aku merasa sedih. Aku hanya bisa mengingat waktu-waktu ketika aku merasa marah. Aku marah. Sangat marah. Dulu, kini, dan nanti akan selalu diliputi amarah yang tak bisa berhenti. Tapi, pada siapa aku marah? Kenapa aku marah? Jika tidak tahu alasannya, masih pantaskah aku marah? Ah, kurasa bukan begitu cara mainnya. Sama seperti emosi lainnya, jika aku bisa mencintai tanpa alasan, aku juga bisa marah tanpa alasan. Hanya marah. Hanya merasa sangat marah. Semua hal memicu kemarahan. Aku akan marah-marah hari ini.