Di ruang-ruang pelik hembusan nafasmu bergema nyaring. Kudengar kau merapatkan segala hal yang mampu mulutmu ucap. Segala yang mungkin telah kau pendam sejak lama dalam kepalamu hingga rasanya ingin meledak. Tak apa, aku paham memendam terkadang memang lebih mudah dibanding mengutarakan.
Hari demi hari yang berguguran satu per satu. Entah alasan apa lagi yang akan kau pakai sekarang, aku tidak tahu. "Jangankan kamu, aku sendiripun belum ketemu.", katamu ketika tertuju padamu padahal tanyaku belum sempat kubagi denganmu. Aku mengandeng tanganmu dan mengajakmu berjalan bersama. Beriringan akan membuat segala terasa menjadi lebih ringan. Setidaknya kau tahu kau tidak sendirian.
Tiba di penghujung hari, suara kereta di kejauhan menemani kita yang menghitung hal-hal yang terlewatkan, juga hal-hal yang belum sempat. Kembali, kita menambahkannya pada daftar catatan esok hari. Bila tak sempat juga dituntaskan, maka akan kita tambahkan kembali untuk hari berikutnya, dan selanjutnya, dan seterusnya. Ini cara kami bertahan. Mengumpulkan hal-hal remeh, mengerjakannya, dan merasa gembira karenanya.