Di sini hujan. Di sana bagaimana? Aku penasaran seperti apa pemandangan di sana. Apakah itu penuh dengan hijau yang luas sejauh mata memandang kemudian biru di kejauhan? Atau itu berwarna warni seperti pola pada kemeja yang biasa kau kenakan? Atau ia hanya hitam putih seperti hidupku setelah kau menghilang? Katakan! Ceritakan bagaimana suasana lampu merah di sana. Bisingkah suara klakson beradu dengan petikan gitar para pengamen jalanan? Di sini hujan dan aku mulai kelaparan.
Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.