Tiap-tiap kita adalah pelari handal. Sekalipun bukan atlet lari, tiap-tiap kita pasti punya satu hal yang membuat kita ingin berlari. Lari dengan kenyataan yang menyakitkan, lari dari orang-orang yang melelahkan, bahkan lari dari hal-hal yang kita cintai karena merasa tidak pantas mendapatkannya. Lari menjadi candu ketika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Meski begitu, kita tidak bisa lari selamanya. Ada hal-hal mengikat lainnya yang membuat kita terpaksa bertahan, berjuang sedikit lebih keras, dan menguatkan diri sekali lagi sambil berdoa semoga semua segera membaik.
Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.