Langsung ke konten utama

Dicurangi

​Dalam menjalani hidup yang seringnya tidak adil ini, aku selalu meyakini bahwa dimanapun kebaikan akan berbalas. Jadi aku berusaha bersikap baik pada semua orang, memberi mereka kesempatan berkali-kali, dan percaya bahwa aku juga akan dikelilingi kebaikan lainnya. Namun, ternyata aku terlalu naif dengan semua. Tak jarang, hal-hal baik yang kulakukan dimanfaatkan dan diputarbalikan. Tanpa sadar, aku sering berakhir menjadi badut yang ditertawakan. Bukan karena aku bodoh, tapi karena aku terlalu baik. Begitu kata teman-temanku yang sudah ribuan kali kudengar.


Beberapa kenyataan lainnya yang kutemui adalah pandangan orang-orang yang mewajarkan kecurangan-kecurangan yang diarahkan padaku hanya karena aku baik.


Aku baik, jadi tak apa untuk meminta bantuan terus menerus, toh aku tidak akan menolak dan akan berusaha membantu semaksimal mungkin. Aku baik, jadi aku gampang dikendalikan. Aku baik, jadi aku bisa dimanfaatkan sampai kebutuhan mereka terpenuhi. Aku baik, jadi wajar kalau orang-orang bergantung padaku. Aku baik, jadi wajar kalau ada yang salah paham dengan perbuatanku. Aku baik, karena itu aku disukai dan dicintai. Itu stigma orang-orang terhadapku.


Semua itu membuatku berpikir, jika aku tidak baik, masih adakah yang mau berteman denganku? Jika aku tidak baik, apakah aku masih dibutuhkan? Jika aku tidak baik, apakah orang-orang tidak akan salah paham? Jika aku tidak baik, apakah aku tidak pantas disukai dan dicintai? Pertanyaan-pertanyaan itu memberondong diriku sampai ke alam bawah sadar.


Meski aku baik, nyatanya aku sering kali dicurangi. Tidak hanya oleh orang asing, bahkan dari lingkaran terdekat dalam hidupku. Aku dilimpahkan beban yang seharusnya tidak kutanggung. Aku dilimpahkan tugas yang seharusnya bukan peranku. Aku dilimpahkan tanggungjawab yang seharusnya bukan untukku. Bahkan aku dijadikan tempat pemulihan dan pelampiasan orang-orang sakit yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Semua karena aku baik. Jadi, harusnya aku menjadi jahat agar tidak lagi dicurangi?

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara