Langsung ke konten utama

Mengenang Bintang

​Menonton Petualang Sherina 2 seperti melakukan perjalanan waktu. 23 tahun lalu, aku hanya anak kecil berusia 3 tahun yang waktu itu belum bisa mencerna apapun. Aku hanya ingat beberapa peristiwa kecil yang aku lupa detailnya. Mungkin, itu kisaran usia 3-5 tahun. Karena memori paling yang jelas yang bisa kuingat adalah ketika aku mulai masuk TK. Di umur kurang dari 5 tahun, aku hanya punya ingatan samar tentang tidur di sofa di rumah saudara selama beberapa hari, lalu pindah tidur di ruang tamu salah satu kenalan orangtua, sampai akhirnya pindah ke sebuah rumah kontrakan 3 petak yang cukup besar karena kami tidak punya barang apa-apa waktu itu. Entah butuh waktu berapa lama sampai akhirnya kami pindah rumah lagi. Itupun hanya perlu beberapa kali bolak balik karena pindahnya tidak jauh dan tidak punya banyak barang. Sepertinya barang yang berharga waktu itu adalah kompor. Lalu, di lingkungan rumah baru ini aku mulai sering main ke rumah teman untuk menonton TV karena waktu itu keluarga kami tidak punya TV. Mamaku bilang, ada waktu ketika aku pulang dengan menangis karena sedang asik nonton tapi diganti oleh pemilik rumah. Sedih sekali sampai akhirnya orangtuaku membeli sebuah TV kecil. Padahal sekarang pun aku juga tidak punya TV dan sudah lama tidak nonton TV.


Film Petualangan Sherina pertama kutonton hari minggu pagi di sebuah stasiun TV yang sudah kulupa apa namanya. Aku tidak pernah menonton bioskop saat kecil. Kurasa kali pertama aku nonton bioskop adalah saat SD atau SMP. Itupun seperti ditraktir teman yang sedang berulang tahun. Siapa sangka, sekarang aku bisa menonton bioskop kapan pun aku mau. Aku bahkan sudah menonton banyak film berbayar maupun gratis, di bioskop maupun di aplikasi. 


Petulangan Sherina 2 selain mengingatkanku pada masa-masa sulit keluargaku ketika kecil, juga mengingatkanku pada banyak hal. Tentang kehidupan yang dulu sangat aku inginkan. Persahabatan yang setia dan bertahan lama yang jujur sangat sulit dimiliki. Bahkan sampai saat ini, jika ditanya siapa sahabatku, aku tidak bisa menjawabnya. Aku punya beberapa teman dekat yang sering menjadi tempatku bertukar cerita, berdiskusi, dan pergi keluar bersama, tapi aku tidak yakin apakah aku pantas menyebut mereka sahabat. Jangan tersinggung ya teman-teman, bukan kalian kalian tidak baik, justru karena kalian terlalu baik dan aku merasa belum memberikan banyak hal yang selayaknya diberikan oleh seorang sahabat kepada sahabatnya. Jadi seringnya aku merasa tidak pantas disebut sahabat, hanya pantas disebut teman dekat. Aku merasa tidak seperhatian itu dengan mereka yang begitu perhatian denganku. Mungkin karena aku punya terlalu banyak hal lain yang perlu diperhatikan, jadi seringnya aku tidak bisa menaruh perhatian lebih pada mereka yang menganggapku sahabat. Maka aku tpada akhirnya merasa tidak pantas dan juga baik-baik saja jika kemudian mereka tidak lagi menganggapku sahabat lalu kemudian meninggalkanku.


Petualangan Sherina 2 juga mengingatkanku pada salah satu impian terbesarku, yakni menjadi jurnalis. Ina kecil begitu ingin tampil di depan kamera, masuk TV, dan berbagi banyak hal dengan menjadi seorang wartawan. Ina besar sempat melakukan itu sebagai reporter media online kecil berbasis organisasi non profit. Ia melakukannya selama 2 tahun sebelum akhirnya melepas semua itu karena butuh kestabilan ekonomi ketika ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Berkali-kali Ia mencoba lagi untuk masuk ke dunia jurnalistik dan media, namun sepertinya sampai saat ini ia belum berjodoh dengan tempat itu. Rejekinya mungkin hanya sebatas mencicipi proyek-proyek yang berkaitan dengan itu. Tapi itu pun sudah cukup membuatnya bahagia dan bersyukur. Setidaknya, Ina besar tetap bisa membuat Ina kecil bangga dengan hal-hal tersebut.


Petualangan Sherina 2 membangkitkan kembali jiwa petualangku yang ingin mencicipi berkunjung ke semua pulau besar di Indonesia. Kalimantan menjadi salah satu pulau besar di Indonesia yang belum pernah aku kunjungi selain Sulawesi. Aku sudah beberapa kali ke Sumatera, sudah juga berkunjung ke semua provinsi di Jawa. Sudang menapakan kaki di Papua. Jadi, Kalimantan dan Sulawesi adalah 2 pulau besar yang belum ku kunjungi. Semoga suatu hari nanti aku bisa memberi centang pada semua wishlist pulau besarku, lalu menambahkan list baru untuk pulau-pulau kecil yang ingin aku kunjungi.


Terakhir, Petualangan Sherina 2 mengusik kerinduanku akan sosok yang penyayang dan bisa diandalkan, yaitu Saddam. Saddam yang diperankan Derby Romero, tidak bisa dipungkiri, adalah first crush banyak anak perempuan di tahun 2000an, juga mungkin first crushku. Mungkin, karena waktu kecil aku gampang suka atau kagum dengan karakter di film atau buku. Melihat kembali sosok Saddam membuatku berpikir, “Pernahkah aku bertemu orang sepertinya di dunia nyata?”, “Apakah aku akan bertemu orang sepertinya?”, “Apakah aku akan mempunyai sosok seperti itu?”. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mau aku jawab karena rasanya terlalu abu dan jauh. Yang jelas, aku benar-benar dibuat baper dan gagal move on oleh Saddam di Petualangan Sherina 2.


Semua playlist soundtrack di film Petualangan Sherina 2 benar-benar bagus, menarik, dan bermakna dalam. Rasanya seperti mengobat rindu yang sudah terlalu lama terpendam dan ingin membagikan semuanya ke banyak orang karena terlalu indah. Begitu indah sampai membuat tenggelam dan terngiang-ngiang terutama saat malam. Jadi, untuk siapapun yang belum menonton film Petualangan Sherina 2, gak ada alasan buat kalian untuk gak nonton. 

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara